BLOSSOM DIARY – … Is Dead (2016)

blossom-diary-is-dead-cover

Blossom Diary – … Is Dead (Anoa Records, 2016)

Album diskografi (keterangan: kompilasi memuat semua materi yang pernah direkam oleh sebuah band) dekat dengan kultur punk / indie, dan biasanya diterapkan pada band-band berumur pendek, yang hanya mampu merilis beberapa buah single, EP, dan (kalau beruntung) album penuh.

Rilisan format album diskografi yang baru saja hadir di scene indie lokal adalah dari Blossom Diary, salah satu eksponen awal gerakan indiepop (baca: bukan britpop) di Indonesia.

Blossom Diary sebelumnya tidak pernah menjadi band indiepop favorit saya, karena pada waktu itu (awal 2000-an) saya lebih memilih The Sweaters di antara band-band indiepop lokal sejenis dengan sound non “Swedish-Pop”.

Meski bukan band favorit, namun tanpa disadari banyak momen di hidup saya yang bersinggungan dengan band asal Jakarta-Bandung ini: Pertama, saya dulu sekira tahun 2001/2002 pernah punya kaos Blossom Diary (desainnya bagus dan sempat jadi kaos andalan untuk pergi ke kampus). Kedua, saya pernah membaca (pinjam dari teman) majalah Ripple #7 (2001) dan tentunya mendengarkan kaset sampler-nya. Ketiga, saya punya kaset kompilasi Delicatessen (Poptastic! Records, 2002). Keempat, saya juga punya CD kompilasi Do Re Mi (Paviliun Records, 2006).

Namun dengan hal-hal di atas tersebut tetap tidak menjadikan saya sebagai penggemar dari Blossom Diary.

2016, 10 tahun pasca bubarnya Blossom Diary, Anoa Records (Jakarta) merilis album diskografi dari band tersebut, diambil dari kumpulan materi-materi yang sudah out of print dan rare, dari lima tahun eksistensi Blossom Diary (2000 – 2005).

Dari album ini kita juga bisa melihat pergeseran/evolusi musik dari Blossom Diary, dari yang tadinya jangly-dreamy indiepop (era 2001-2003), menjadi sedikit shoegazing/neo-psychedelia (era 2004-2005).

… Is Dead berisi kumpulan lagu yang diambil dari: Ripple Magazine #7 (2001) bonus sampler, kompilasi Delicatessen (Poptastic! Records, 2002), Blossom Diary LP (Marmalade Records, 2003), kompilasi Pop Shower (Quince Records, 2003), CD-single About The Poor Boy (2004), kompilasi Do Re Mi (Paviliun Records, 2006) dan rilisan-rilisan lainnya yang saya tidak ketahui.

Seperti halnya album kompilasi ‘The Best Of’, album diskografi juga memiliki fungsi serupa; merangkum kumpulan (atau semua) karya representatif dari sebuah band untuk para penggemar mereka, serta memperkenalkan musik-musik lawas tersebut untuk penggemar-penggemar baru.

Kalau memang tujuan dibuatnya album diskografi seperti paragraf di atas, maka hal tersebut berhasil, karena sekarang saya telah menjadi penggemar Blossom Diary dan kini mereka merupakan salah satu band favorit saya.

Genre musik: Indiepop, Twee-Pop, Shoegazing
Untuk penggemar: Another Sunny Day, The Hit Parade, Field Mice, Blueboy, (late) Ride.

* beli albumnya di SINI.

Advertisements

~ by wastedrockers on 14/12/2016.

2 Responses to “BLOSSOM DIARY – … Is Dead (2016)”

  1. senang mendengar anda menyerah untuk menyukai bd, meski beda cara, saya suka materi awal mereka dan mereka semua karib buat saya, entah saya buat mereka.

  2. […] keep looking and I find an Indonesian blog called Wasted Records. I could understand that the band actually had a couple more releaseses. There was of course their […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: