PISTON – Titik Nol (2016)

•20/01/2017 • Leave a Comment

piston-titik-nol

Piston – Titik Nol (Sepsis Records / Lawless Jakarta, 2016)

Piston adalah contoh tepat dari sebuah band muda ‘pekerja keras’. Posisi mereka saat ini merupakan hasil kerja keras dan konsistensi yang selama ini terus dilakukan.

Kami sering menemukan banyak band muda yang bagus, namun ‘selesai’ setelah rilis beberapa single atau EP. Jarang sekali yang mampu bertahan hingga lebih dari usia lima tahun.

Begitu masuk dunia kantoran atau berkeluarga, banyak yang bubar jalan. Kalaupun ada yang mampu bertahan, biasa adalah band-band yang keras kepala.

Untuk bertahan pun band-band muda tersebut harus memiliki sesuatu yang lebih ketimbang hanya materi bagus. Banyak hal yang harus diperhatikan, seperti: pandai berjejaring (tanpa harus jadi social-climber), memiliki visi ke mana arah yang ingin band tuju, memikirkan produksi (rekaman, teknis panggung), merchandising, promo, dll.

Piston mulai bergerilya berpromo ke mana-mana sejak 2012, manggung sana-sini, hingga akhirnya bisa di-sign dan dirilis oleh dua label rekaman independen terbesar di Jakarta saat ini.

Sedikit banyak kami mengamati gerak-gerik gerilya dari band ini, yang tentu hal tersebut tentu tidak mudah dilakukan oleh Piston. Setelah akhirnya album debut Titik Nol dirilis, mungkin sedikit terbayarkan usaha tanpa lelah Piston tersebut.

Pergerakan dari Piston ini bisa dicontoh oleh band-band muda lokal lainnya yang ingin jadi ‘besar’ (ini di luar konteks ‘selling-out’).

Penggarapan album yang dirilis akhir 2016 ini dikerjakan sangat ‘niat’. Mulai dari artwork yang dikerjakan oleh seniman grafis muda yang tengah naik daun, Dannus Darmawan, hingga ke proses mastering yang dikerjakan oleh Toteng (Forgotten).

Titik Nol sendiri merupakan kompilasi dari beberapa single dan EP yang sebelumnya pernah dirilis oleh Piston.

Bagi kalian band-band muda, jika ingin mencari acuan band seangkatan sebagai tolak ukur, coba dengarkan dan lihat Piston.

Buat Piston, jika mereka bisa terus konsisten hingga lima tahun ke depan, bukan tidak mungkin mereka bisa berada di papan atas dunia musik rock Tanah Air, karena mereka telah memiliki semua elemen yang diperlukan untuk mencapai ke sana.

Genre musik: Crossover, Punk-Rock, Hard-Rock, Garage-Rock
Untuk penggemar: Fitz Of Deppresion, ZEKE, Turbonegro, Dwarves, Bad Religion, The Misfits, Motörhead

SATURDAY NIGHT KARAOKE – Japan Tour 2017 details

•19/01/2017 • Leave a Comment

saturday-night-karaoke-japan-tour-2016

Saturday Night Karaoke akan menggelar tur Jepang pada bulan Maret nanti!

Tur ini akan dilakukan oleh trio pop-punk asal Bandung tersebut selama sepekan, di wilayah Kanto, Honshu, Jepang.

Detail jadwal tur bisa dilihat melalui poster di atas. Cek pula penampilan live Saturday Night Karaoke tahun 2013 lalu di Jakarta yang sungguh energik, melalui video di bawah ini.

70s OC – Nongkrong 70 (single, 2017)

•18/01/2017 • Leave a Comment

70s-oc

Enam tahun pasca merilis debut EP Supersonicloveisticated (2011), 70s Orgasm Club berusaha untuk kembali dan tetap relevan di scene musik lokal.

Ada banyak hal yang mereka rombak untuk ‘comeback’-nya ini, antara lain sedikit mengubah nama menjadi ’70s OC’, mengganti lineup band, menulis banyak lirik Bahasa, serta mengubah arah musik; dari yang tadinya Hendrix-esque blues-rock menjadi traditional 70s funk.

70s OC baru merilis sebuah single berjudul “Nongkrong 70” sebagai pengenalan dari semua perombakan yang trio asal Bandung ini lakukan. Single ini adalah teaser untuk debut full-length mereka, Electric Love, yang akan rilis tahun ini juga.

Cek single barunya yang smooth ‘n’ groovy di bawah ini.

Cek pula penampilan 70s OC (dengan line-up baru yang solid) di acara Santay-santay Tengah Pekan #5 gelaran Wasted Rockers pada tahun 2012 lalu, di bawah ini.

Out now: HAZINE HAZE – Still Seeing Blue

•16/01/2017 • Leave a Comment

Marco Victorio, seorang produser muda hip-hop asal Jakarta, yang juga kerap pindah domisili negaranya.

Produser yang menggunakan nama panggung Hazine Haze ini memainkan musik-musik chillhop / lo-fi hip-hop / instrumental hip-hop yang menenangkan.

Hazine Haze baru merilis sebuah album perdana yang berjudul Still Seeing Blue. Dengarkan albumnya di atas. Cocok didengarkan sambil ngopi atau menulis  😉

Kontak:
Tumblr
Soundcloud
Facebook
Instagram

Various Artists – Fairytale Of Megabiodiversity (La Munai Records, 2016)

•14/01/2017 • Leave a Comment

various-artists-fairytale-of-megabiodiversity

Various Artists – Fairytale Of Megabiodiversity (La Munai Records, 2016)

Meski sudah banyak band-band indie lokal yang memainkan gaya neo-psychedelia sejak akhir dekade 90-an dan awal 2000-an, namun gerakan/movement-nya sendiri baru terasa pada tahun 2010; pada saat itu muncul gelombang band-band baru yang memainkan gaya psikedelik revival.

La Munai Records, sebuah label rekaman baru asal Jakarta mencoba menangkap momen dari gelombang neo-psychedelia lokal tersebut melalui rilisan perdananya berupa album kompilasi yang berjudul Fairytale Of Megabiodiversity.

Kompilasi ini pun berisi beraneka ragam disiplin musik, mulai dari: jazz, electronic, hingga ke indie/alternative, yang kesemuanya itu tetap memiliki benang merah yang jelas, yakni ‘Psikedelik’.

Mulai dari yang senior hingga junior, tertangkap di Fairytale Of Megabiodiversity. Hampir semua eksponen yang mewakili gelombang neo-psychedelia lokal ada di sini, mulai dari: Maverick (di era psikedeliknya), Fredom Of Choice, Aksan Sjuman and The Committee of the Fest, Its Different Class, Napolleon, Strange Fruit, Astrolab (di era baru mereka), Circarama, Ramayana Soul, dan lain-lain.

Semua pengisi di album ini terkurasi dengan baik. Semuanya bagus musiknya. Artwork-nya pun juga ciamik.

Lalu liner-notes nya pun ditulis secara indah ala Gonzo Journalism oleh Dr.Marto a.k.a Rio Tantomo.

Satu-satunya masalah kami di album ini adalah SEMUA lagu di kompilasi ini sudah pernah dirilis sebelumnya. Tidak ada satu pun exclusive track di kompilasi ini.

Mayoritas lagu di album ini sudah kami dengar di album masing-masing tiap artisnya.

Jadinya Fairytale Of Megabiodiversity terkesan hanya sebagai ‘kompilasi sampler’ ketimbang sebuah kompilasi tematik khusus.

Tidak tahu ya, tapi hal yang kami sukai sedari dulu dari album kompilasi adalah yang memiliki banyak exclusive tracks dan tidak ada di album masing-masing artisnya.

Kemudian (meski yang ini bukan komplain), jika saja Fairytale Of Megabiodiversity dirilis era tahun 2014-2015, yakni masa kejayaan neo-psychedelia lokal (ket: album ini dirilis akhir 2016) tentu album ini akan meledak. Kehilangan momentum? Bisa jadi.

Tapi jika Fairytale Of Megabiodiversity memang diproyeksikan hanya sebagai arsip perekam gerakan neo-psychedelia lokal, maka hal itu berhasil.

Album ini kami rekomendasikan bagi yang ingin mencari tahu tentang scene neo-psychedelia di Indonesia. Sampler yang bagus.

Genre musik: Neo-Psychedelia, Pyschedelic-Rock, Psychedelic-Jazz, Electronic.
Untuk penggemar: jamur letong, LSD, obat antidepresan / antiansietas.

Jogja Noise Bombing Fest 2017

•11/01/2017 • Leave a Comment

Jogja Noise Bombing Fest 2017

* klik di gambar untuk memperbesar