MATIUS III:II – Penghabisan (2013)

•28/07/2014 • Leave a Comment

Matius III; II

Matius III:II ‘Penghabisan’ CD (Unleash Records, 2013)
Saya percaya bahwa korban dari tren musik adalah band, bukan musiknya itu sendiri. Tren bakal silih datang berganti, sebuah band akan terdengar usang, namun tidak untuk genre musik itu sendiri.

Sama halnya seperti genre industrial-rock, sebut saja band-band favorit kamu, rata-rata pasti sudah band uzur atau lawas. Namun lain halnya dengan the genre itself, industrial-music yang akan tetap terdengar segar.

Industrial-music berawal pada awal dekade 80-an sebagai perpanjangan dari genre punk-rock. Bahkan banyak juga yang menyebut industrial sebagai “post-punk” dan itu sah-sah saja.

Genre ini di era 80-an sangat menarik perhatian di scene underground Eropa & AS, kemudian mulai masuk ke mainstream di era awal 90-an, dan mencapai puncaknya di akhir 90-an ketika sedang tren band-band nu-metal.

Di lokal sendiri band-band industrial sudah muncul sejak pertengahan dekade 90-an, dan mulai mewabah pula pada akhir dekade 90-an (yang turut bercampur dengan band-band nu-metal). Namun layaknya kecenderungan tren, band-band itu datang dan pergi. Hanya menyisakan sedikit saja yang konsisten.

Pertengahan 2013 lalu kami mendengar ada sebuah band dari kota Solo yang memainkan industrial-rock bernama Matius III:II (dibaca: Matius Tiga Ayat Dua). Kami pun mengecek musik dan aksi live-nya, dan hasilnya pun tidak mengecewakan.

Matius III:II seperti menambal kekurangan-kekurangan dari band-band industrial lokal yang ada selama ini, baik dari sisi musik maupun lirik.

Band Solo ini benar-benar ‘ngulik’ sound industrial-music; beberapa style industrial-music seperti mereka campur aduk menjadi satu. Ingat pepatah: “Bad artist imitate, Good artist steal”? Matius III:II masuk ke golongan ‘Good Artist’.

Selain EDM, metal dan rock, Matius II:II di musiknya juga memasukkan unsur-unsur: musique-concrete, techno, gabber, drum n bass, noise & ambient, sehingga eksperimentasi khas industrial-music sangat pol di album Penghabisan ini.

Sama halnya dengan ulasan yang sangat telat ini, musik yang bagus tidak akan lekang waktu. Industrial-music is still alive and well.

Genre musik: Industrial-Metal, Industrial-Rock
Untuk penggemar: Ministry, White Zombie, Static-X, Fear Factory, (early) Slipknot

Imut Tapi Kasar: AGGI

•25/07/2014 • Leave a Comment

Aggi

Aggi, band proyekkan noise-pop / lo-fi / indie-rock dari anak-anak Morfem, The Porno, Barefood, MellonYellow, Mati Gabah Jasus, Sharesprings & StrawberryWine.

Band ini memainkan akar kuat dari indiepop (which is punk-rock) yang mentah, dengan keimutan duo vokal boy-girl khas twee-pop.

Kami sudah pernah menyaksikan live-set Aggi; ada mosh-pit di sana.

Btw, Aggi baru saja merilis sebuah maxi-single bertajuk Aggi (s/t) di bawah label lokal baru, Music To Beat Up A Boyfriend.

Coming-Soon: DAMASCUS Debut LP!

•24/07/2014 • Leave a Comment

This slideshow requires JavaScript.

Damascus, adalah salah satu contoh kasus band proyekkan super-keren, namun kurang dikerjakan secara serius.

Band dari nama ibu kota negara Suriah ini adalah proyek shoegazing yang didirikan medio 2006-2007 oleh para personil dari The Sastro, Morfem, The Porno, Nervous Breakdown, Anoa Records, Dikeroyok Wanita, dan masih banyak lagi. Namun belum memiliki satu pun rilisan!

Tapi jangan salah, band ini jam terbang panggungnya juga sudah cukup tinggi. Kami juga pernah mengundang mereka untuk main di gig Wasted Rockers, and we’re stoked.

Kabar gembira, Damascus dalam waktu dekat akan merilis debut LP berisi 8 buah lagu di bawah label rekaman Heyho! Records. Kami juga sudah mendengar rekaman mentah untuk albumnya Damascus, dan kami dengar sejauh ini sudah oke.

So, kita nantikan saja rilisan shoegazing lokal yang mungkin bakal berbahaya ini.

Kontak:
damascus.noise@gmail.com
Twitter
Facebook

Nada Buaian Tidur Dari HUMIDUMI

•22/07/2014 • Leave a Comment

HumiDumi

Surabaya saat ini banyak bermunculan band-band segar dan patut disimak, salah satunya adalah HumiDumi.

Band akustik / indie-folk ini berasal dari kota Surabaya. Berdiri sejak akhir tahun 2012.

Pada tanggal 20 Juni 2014 kemarin, HumiDumi baru saja merilis debut EP mereka bertajuk I am Ij Sin A.

Dengan musik akustik yang menenangkan serta vokal yang sensual ala vokalis-vokalis wanita di band Nouvelle Vague, Elsiane dan Angus And Julia Stone, membuat band ini patut kalian cek.

Rencananya band ini akan melakukan tur. Doakan saja sampai ke kota kalian.

Various Artists – Delicatessen: A Poptastic! Compilation (Poptastic! Records, 2002) revisited

•20/07/2014 • 2 Comments

This slideshow requires JavaScript.

Memang musik “Alternative” meledak di AS dan Inggris semenjak akhir 80-an hingga awal 90-an, banyak band-band underground-alternative dari sana mendadak terkenal dan populer setelah direkrut oleh label major.

Namun gaung alternative-music ini betul-betul sampai di Dunia Ketiga seperti Indonesia ini adalah pada tahun 1994, terutama setelah kematian Kurt Cobain dan booming-nya band-band alternative versi MTV (dengan band-band Britpop & Post-Grunge).

Pada era 1991-1993 di Indonesia masih tren band-band hair-rock / ballad-rock / thrash-metal, bukan grunge ataupun alternative-rock. Harap maklum, negara Dunia Ketiga pada era pra internet. Jadinya agak telat mengikuti tren musik.

Di Indonesia sendiri pada era keemasan alternative-music ini muncul banyak band yang memainkan musik tersebut. Label major pun tak mau kalah, dengan juga merekrut band-band alternative lokal (masih ingat khan dengan banyaknya band-band underground-alternative lokal era 1995-1999 yang sign ke major label?).

Scene indie / underground-alternative Indonesia saat itu pun masih berusia muda. Meski sudah banyak yang masuk ke label besar, namun infrastrukturnya masih belum kuat; label indie, promotor gig, fanzine / media pun masih sangat sedikit sekali keberadaannya.

Barulah mulai dekade 2000-an scene alternative lokal yang beneran “indie” dan “underground” mulai bergeliat; internet memudahkan segalanya (baik itu untuk mencari informasi, referensi dan meng-order rilisan-rilisan luar).

Para periode ini infrastruktur scene indie-underground lokal sudah mulai tertata; band-band mulai muncul dengan gaya musik variatif, gig-gig di venue kecil mulai eksis (tidak seperti di era 90s, yang melulu gig matinee, acara di tempat besar, band pengisi acara jumlahnya ada puluhan dan mayoritas adalah cover-bands), penonton sudah mulai teredukasi dan fanzine-fanzine yang mengangkat tema indie-underground pun juga sudah bermunculan.

Pada tahun 2002 band-band indie (atau “indies” sebutan khas versi lokalnya) mulai banyak merilis secara independen album mereka. Salah satu highlight scene indies dari periode tersebut adalah album kompilasi Delicatessen: A Poptastic! Compilation.

Sebenarnya album kompilasi ini juga pernah diulas di fanzine Wasted Rockers edisi perdana format cetak yang terbit awal tahun 2003.

Album kompilasi Delicatessen: A Poptastic! Compilation dirilis oleh sebuah label asal kota Bogor bernama Poptastic! Records, dan diisi oleh 12 band Bandung-Jakarta.

Tahun 2002, ketika sedang dalam agenda ‘belanja kaset bulanan’, saya menemukan kaset ini di display Riotic Distro, Bandung. Tanpa pikir panjang, saya pun langsung membeli album ini.

Sekarang, 2014, tak terasa sudah 12 tahun pasca perilisan pertama kalinya album Delicatessen: A Poptastic! Compilation.

Album ini masuk kategori klasik? Itu jelas. Terutama jika melihat waktu rilis dan band-band pengisi-pengisinya yang banyak menjadi besar dan berstatus ‘cult’.

Di album ini Mocca belum mengeluarkan debut album mereka (yang kemudian meledak di mainstream), Santa Monica musiknya juga masih indiepop (belum menjadi indietronica, yang kemudian album Curiouser and Curiouser dari mereka juga meledak pada tahun 2008), saya pertama kali tahu The Upstairs juga dari album ini (mereka pada periode ini juga belum punya album, kini The Upstairs adalah salah satu band indie terbesar di Indonesia), raja shoegazer lokal The Milo di sini juga belum merilis album, yang kemudian diikuti oleh band-band indie lokal penting lainnya macam The Sweaters, Gorgeous Smile, Eta, Blossom Diary, serta proyekkan indie-rock yang terlupakan dari anak-anak punk Nudist Island, Hark Its A Crawling Tar-tar, Kontrasosial, dll saat itu dengan nama Modestic.

Delicatessen: A Poptastic! Compilation, rilisan penting untuk scene ‘indies’ lokal. Period.

=========================================================================================================

Artist: Various Artists
Album title: Delicatessen: A Poptastic! Compilation
Year: 2002
Label: Poptastic! Records
Country: Indonesia
Catalogue: Pop 02
Genre: Alternative
Style: Indiepop / Indie-Rock / New-Wave / Shoegazing / Britpop

Side A:
01. Mocca – Me & My Boyfriend (acoustic version)
02. Santa Monica – Rubin
03. The Milo – Broke (demo version)
04. Supernova – Sunset
05. Kamehame – 8.14
06. The Upstairs – Antah Berantah (early version) *

Side B:
07. Blossom Diary – She Will Never Come Home
08. Silica – My Sunday
09. The Sweaters – Ordinary Girl *
10. Modestic – I Dont Care *
11. Eta – Selama Ia…
12. Gorgeous Smile – Hingga *

DOWNLOAD (via missfairyfloss)

* track tidak ada di dalam folder

SHAGGY DOG Dirikan Label Rekaman Sendiri

•19/07/2014 • Leave a Comment

Doggy House Records

Band ska ternama asal Yogyakarta, Shaggy Dog, mendirikan record-label sendiri bernama Doggyhouse Records.

Untuk rilisan perdananya, Doggyhouse Records merilis sebuah album kompilasi berjudul Doggybarks Compilation vol.1.

Kompilasi yang berformat CD ini berisi 13 band Yogyakarta seperti: Shaggydog, Something Wrong, FSTVLST, Serigala Malam, Sangkakala, DPMB, Everyday, Gerap Gurita, Morning Horny, Rabu, Summer In Vienna, WVLV, dan Indigo Moon.

Kita nantikan saja kapan album kompilasi ini bakal dirilis.

Info lebih lanjut:
doggyhouserecs@gmail.com
http://doggyhouserecords.bandcamp.com
https://soundcloud.com/doggyhouse-records
https://www.facebook.com/DoggyhouseRecs
www.doggyhouserecords.tumblr.com

Eks Kibordis SORE Akan Rilis Album Solo

•19/07/2014 • Leave a Comment

Mondo Gascaro

Pasca mengundurkan diri dari SORE, Mondo Gascaro, berencana untuk merilis album solo.

Pasca pengunduran dirinya dari posisi kibordis di SORE, Mondo banyak memproduseri penyanyi solo/band melalui label rekaman yang ia miliki, Ivy League Music. Selain itu, ia juga sibuk menggarap jingle iklan dan scoring film.

Sebelum merilis album full, Mondo akan terlebih dahulu merilis dua buah single, sebagai teaser.

Di album ini pun ada beberapa musisi tamu yang turut membantu Mondo.

Ya kita nantikan perkembangan selanjutnya dari album solo Mondo Gascaro ini.

Info lebih lanjut:
https://twitter.com/Odnomar
https://www.facebook.com/mondo.gascaro

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 120 other followers