STEPFORWARD – The History Never Stops (mini-documentary)

•31/07/2014 • Leave a Comment

StepForward: The History Never Stops, sebuah mini-dokumenter karya Dimas Brojonegoro, tentang band Stepforward. Film ini dirilis pada tahun 2005, namun baru dilepas di YouTube tahun 2014 ini. Cek.

===================================================================================

StepForward, salah satu band hardcore legendaris asal Jakarta. Band metallic-hardcore ini berdiri sejak tahun 1995.

StepForward sempat eksis periode 1995-2002, kemudian vakum. Pada periode 2005-2007 sempat aktif, namun kembali vakum. Kemudian pada 2011 kembali reuni untuk tampil live di event Java Rockin Land 2011.

Selama periode eksistensinya Step Forward sempat merilis beberapa single lepas untuk album kompilasi lokal era 90-an hingga 2000-an awal.

Rilisan full-album mereka, Stories Of Undying Hope (Pinball Records, 2001) cukup berpengaruh untuk scene hardcore / (perkembangan awal) metalcore lokal saat itu.

Saat ini beberapa personil StepForward tersebar di beberapa band macam: Seringai, Andra and The Backbone, Alexa, dan lain-lain.

Kabar terakhir (dulu) katanya band ini mau merilis album split dengan Thingking Straight dan sebuah EP/LP. Entah benar atau tidak, kita nantikan saja.

Album Pertama AKA Dirilis Ulang Label Eropa

•30/07/2014 • Leave a Comment

Tak bisa dipungkiri semenjak dirilisnya album kompilasi Those Shocking Shaking Days. Indonesian Hard, Psychedelic, Progressive Rock And Funk: 1970 – 1978 (2011), mulai banyak label rekaman luar (contoh: Sublime Frequencies, Strawberry Rain, Bravo Music, Now-Again Records, dll.) yang mulai merilis ulang (reissue) album-album milik grup/penyanyi Indonesia lawas.

Generasi baru penikmat musik Indonesia pun jadi mulai memburu rekaman-rekaman milik band-band lokal lawas di album kompilasi tersebut.

Salah satunya adalah Granadilla Music, label rekaman asal Eropa, yang merilis album pertama milik AKA, yakni Do What You Like (1970).

Album Do What You Like ini dirilis ulang oleh Granadilla Music dalam format CD dan vinyl (LP) pada bulan Maret 2014 lalu. Sebelumnya album ini dirilis oleh Indra Records pada tahun 1970.

Di Do What You Like, AKA memainkan fuzz-rock, hard-rock, psychedelic-rock, funk-rock khas band-band AS & Inggris era akhir 60-an / awal 70-an.

Meski memainkan musik keras (untuk ukuran waktu itu), materi di album Do What You Like faktanya didominasi oleh banyak lagu bernuansa psychedelic-pop & Indonesiana.

Hal di atas dilakukan tentu agar lebih ‘menjual’ (tren menyelipkan lagu-lagu “idealis” di banyak lagu pop dalam sebuah album musik pun masih berlanjut hingga kini di industri musik arus utama Indonesia).

====================================================================================

 

This slideshow requires JavaScript.

AKA dibentuk di Surabaya pada 23 Mei 1967. “AKA” sendiri merupakan singkatan dari Apotik Kali Asin, apotek milik orang tua Ucok Harahap, tempat band ini di era awalnya bermarkas dan latihan.

Band yang biasa disebut juga sebagai AKA Grup ini berpersonilkan: Ucok Harahap (keyboard/vokal utama), Syech Abidin (drums/vokal), Soenata Tanjung (gitar utama/vokal), Harris Sormin (gitar/vokal) dan Arthur Kaunang (bass). Setelah itu Harris keluar dari band karena mengalami depresi akut.

Pada awal karirnya sebelum merilis album, AKA banyak meng-cover lagu-lagu milik: Mountain, Cream, Grand Funk Railroad, Jimi Hendrix, Led Zeppelin & Deep Purple.

Band ini terkenal akan aksi panggung yang eksentrik dan liar dari Ucok. Banyak cerita-cerita (urban-legend) menarik yang beredar di kalangan rocker/jurnalis/penggemar musik senior akan aksi panggung AKA.

Pada 7 Agustus 1975 Ucok di Jakarta mendirikan proyek sampingan berupa kelompok seni kontemporer bernama Ucok & His Gang.

Akhirnya Soenata, Arthur, dan Syech Abidin pun memecat Ucok, dan mendirikan grup heavy-metal / progressive-rock bernama SAS (diambil dari huruf depan nama ketiga personil) pada Desember 1975. Selama periode 1976-1993 SAS telah merilis 13 buah album studio.

Kemudian pada tahun 1977 Ucok mendirikan super-group hard-rock / heavy-metal, Duo Kribo, bersama Ahmad Albar (God Bless). Dalam dua tahun eksistensinya, Duo Kribo telah merilis empat buah album studio dan satu film.

Dilihat dari era awal kemunculan, ke-heavyness-an musik, tema lirik yang kelam, imej band seram, serta aksi panggung yang teaterikal (kadang horor), membuat AKA dijuluki oleh banyak pengamat musik sebagai Pionir Heavy-Metal di Indonesia.

Banyak yang bilang kalau AKA adalah “Black Sabbath-nya Indonesia,“. Kami tidak setuju. AKA berdiri lebih dahulu dari Black Sabbath. Band Surabaya ini berdiri sejak tahun 1967, sementara Sabbath baru berdiri pada 1969. Keduanya pun merilis album perdana di tahun yang sama, yakni 1970.

Untuk urusan pionir heavy-metal dunia, di beberapa forum musik justru menyebut nama Blue Cheer dan Mountain, ketimbang Black Sabbath.

Meski dijuluki sebagai Godfather of Indonesian Heavy-Metal, bukan berarti AKA tidak memiliki cela. AKA pun sempat membuat beberapa buah album bernuansa pop-melayu dan pop-qasidah layaknya band-band populer Indonesia saat itu. :P

Sepanjang sejarah berdirinya AKA, band ini telah merilis sembilan buah album studio, beberapa buah kompilasi antologi dan rilisan-rilisan lainnya yang kami tidak ketahui.

* dari berbagai sumber

MATIUS III:II – Penghabisan (2013)

•28/07/2014 • Leave a Comment

Matius III; II

Matius III:II ‘Penghabisan’ CD (Unleash Records, 2013)
Saya percaya bahwa korban dari tren musik adalah band, bukan musiknya itu sendiri. Tren bakal silih datang berganti, sebuah band akan terdengar usang, namun tidak untuk genre musik itu sendiri.

Sama halnya seperti genre industrial-rock, sebut saja band-band favorit kamu, rata-rata pasti sudah band uzur atau lawas. Namun lain halnya dengan the genre itself, industrial-music yang akan tetap terdengar segar.

Industrial-music berawal pada awal dekade 80-an sebagai perpanjangan dari genre punk-rock. Bahkan banyak juga yang menyebut industrial sebagai “post-punk” dan itu sah-sah saja.

Genre ini di era 80-an sangat menarik perhatian di scene underground Eropa & AS, kemudian mulai masuk ke mainstream di era awal 90-an, dan mencapai puncaknya di akhir 90-an ketika sedang tren band-band nu-metal.

Di lokal sendiri band-band industrial sudah muncul sejak pertengahan dekade 90-an, dan mulai mewabah pula pada akhir dekade 90-an (yang turut bercampur dengan band-band nu-metal). Namun layaknya kecenderungan tren, band-band itu datang dan pergi. Hanya menyisakan sedikit saja yang konsisten.

Pertengahan 2013 lalu kami mendengar ada sebuah band dari kota Solo yang memainkan industrial-rock bernama Matius III:II (dibaca: Matius Tiga Ayat Dua). Kami pun mengecek musik dan aksi live-nya, dan hasilnya pun tidak mengecewakan.

Matius III:II seperti menambal kekurangan-kekurangan dari band-band industrial lokal yang ada selama ini, baik dari sisi musik maupun lirik.

Band Solo ini benar-benar ‘ngulik’ sound industrial-music; beberapa style industrial-music seperti mereka campur aduk menjadi satu. Ingat pepatah: “Bad artist imitate, Good artist steal”? Matius III:II masuk ke golongan ‘Good Artist’.

Selain EDM, metal dan rock, Matius II:II di musiknya juga memasukkan unsur-unsur: musique-concrete, techno, gabber, drum n bass, noise & ambient, sehingga eksperimentasi khas industrial-music sangat pol di album Penghabisan ini.

Sama halnya dengan ulasan yang sangat telat ini, musik yang bagus tidak akan lekang waktu. Industrial-music is still alive and well.

Genre musik: Industrial-Metal, Industrial-Rock
Untuk penggemar: Ministry, White Zombie, Static-X, Fear Factory, (early) Slipknot

Imut Tapi Kasar: AGGI

•25/07/2014 • Leave a Comment

Aggi

Aggi, band proyekkan noise-pop / lo-fi / indie-rock dari anak-anak Morfem, The Porno, Barefood, MellonYellow, Mati Gabah Jasus, Sharesprings & StrawberryWine.

Band ini memainkan akar kuat dari indiepop (which is punk-rock) yang mentah, dengan keimutan duo vokal boy-girl khas twee-pop.

Kami sudah pernah menyaksikan live-set Aggi; ada mosh-pit di sana.

Btw, Aggi baru saja merilis sebuah maxi-single bertajuk Aggi (s/t) di bawah label lokal baru, Music To Beat Up A Boyfriend.

Coming-Soon: DAMASCUS Debut LP!

•24/07/2014 • Leave a Comment

This slideshow requires JavaScript.

Damascus, adalah salah satu contoh kasus band proyekkan super-keren, namun kurang dikerjakan secara serius.

Band dari nama ibu kota negara Suriah ini adalah proyek shoegazing yang didirikan medio 2006-2007 oleh para personil dari The Sastro, Morfem, The Porno, Nervous Breakdown, Anoa Records, Dikeroyok Wanita, dan masih banyak lagi. Namun belum memiliki satu pun rilisan!

Tapi jangan salah, band ini jam terbang panggungnya juga sudah cukup tinggi. Kami juga pernah mengundang mereka untuk main di gig Wasted Rockers, and we’re stoked.

Kabar gembira, Damascus dalam waktu dekat akan merilis debut LP berisi 8 buah lagu di bawah label rekaman Heyho! Records. Kami juga sudah mendengar rekaman mentah untuk albumnya Damascus, dan kami dengar sejauh ini sudah oke.

So, kita nantikan saja rilisan shoegazing lokal yang mungkin bakal berbahaya ini.

Kontak:
damascus.noise@gmail.com
Twitter
Facebook

Nada Buaian Tidur Dari HUMIDUMI

•22/07/2014 • Leave a Comment

HumiDumi

Surabaya saat ini banyak bermunculan band-band segar dan patut disimak, salah satunya adalah HumiDumi.

Band akustik / indie-folk ini berasal dari kota Surabaya. Berdiri sejak akhir tahun 2012.

Pada tanggal 20 Juni 2014 kemarin, HumiDumi baru saja merilis debut EP mereka bertajuk I am Ij Sin A.

Dengan musik akustik yang menenangkan serta vokal yang sensual ala vokalis-vokalis wanita di band Nouvelle Vague, Elsiane dan Angus And Julia Stone, membuat band ini patut kalian cek.

Rencananya band ini akan melakukan tur. Doakan saja sampai ke kota kalian.

Various Artists – Delicatessen: A Poptastic! Compilation (Poptastic! Records, 2002) revisited

•20/07/2014 • 2 Comments

This slideshow requires JavaScript.

Memang musik “Alternative” meledak di AS dan Inggris semenjak akhir 80-an hingga awal 90-an, banyak band-band underground-alternative dari sana mendadak terkenal dan populer setelah direkrut oleh label major.

Namun gaung alternative-music ini betul-betul sampai di Dunia Ketiga seperti Indonesia ini adalah pada tahun 1994, terutama setelah kematian Kurt Cobain dan booming-nya band-band alternative versi MTV (dengan band-band Britpop & Post-Grunge).

Pada era 1991-1993 di Indonesia masih tren band-band hair-rock / ballad-rock / thrash-metal, bukan grunge ataupun alternative-rock. Harap maklum, negara Dunia Ketiga pada era pra internet. Jadinya agak telat mengikuti tren musik.

Di Indonesia sendiri pada era keemasan alternative-music ini muncul banyak band yang memainkan musik tersebut. Label major pun tak mau kalah, dengan juga merekrut band-band alternative lokal (masih ingat khan dengan banyaknya band-band underground-alternative lokal era 1995-1999 yang sign ke major label?).

Scene indie / underground-alternative Indonesia saat itu pun masih berusia muda. Meski sudah banyak yang masuk ke label besar, namun infrastrukturnya masih belum kuat; label indie, promotor gig, fanzine / media pun masih sangat sedikit sekali keberadaannya.

Barulah mulai dekade 2000-an scene alternative lokal yang beneran “indie” dan “underground” mulai bergeliat; internet memudahkan segalanya (baik itu untuk mencari informasi, referensi dan meng-order rilisan-rilisan luar).

Para periode ini infrastruktur scene indie-underground lokal sudah mulai tertata; band-band mulai muncul dengan gaya musik variatif, gig-gig di venue kecil mulai eksis (tidak seperti di era 90s, yang melulu gig matinee, acara di tempat besar, band pengisi acara jumlahnya ada puluhan dan mayoritas adalah cover-bands), penonton sudah mulai teredukasi dan fanzine-fanzine yang mengangkat tema indie-underground pun juga sudah bermunculan.

Pada tahun 2002 band-band indie (atau “indies” sebutan khas versi lokalnya) mulai banyak merilis secara independen album mereka. Salah satu highlight scene indies dari periode tersebut adalah album kompilasi Delicatessen: A Poptastic! Compilation.

Sebenarnya album kompilasi ini juga pernah diulas di fanzine Wasted Rockers edisi perdana format cetak yang terbit awal tahun 2003.

Album kompilasi Delicatessen: A Poptastic! Compilation dirilis oleh sebuah label asal kota Bogor bernama Poptastic! Records, dan diisi oleh 12 band Bandung-Jakarta.

Tahun 2002, ketika sedang dalam agenda ‘belanja kaset bulanan’, saya menemukan kaset ini di display Riotic Distro, Bandung. Tanpa pikir panjang, saya pun langsung membeli album ini.

Sekarang, 2014, tak terasa sudah 12 tahun pasca perilisan pertama kalinya album Delicatessen: A Poptastic! Compilation.

Album ini masuk kategori klasik? Itu jelas. Terutama jika melihat waktu rilis dan band-band pengisi-pengisinya yang banyak menjadi besar dan berstatus ‘cult’.

Di album ini Mocca belum mengeluarkan debut album mereka (yang kemudian meledak di mainstream), Santa Monica musiknya juga masih indiepop (belum menjadi indietronica, yang kemudian album Curiouser and Curiouser dari mereka juga meledak pada tahun 2008), saya pertama kali tahu The Upstairs juga dari album ini (mereka pada periode ini juga belum punya album, kini The Upstairs adalah salah satu band indie terbesar di Indonesia), raja shoegazer lokal The Milo di sini juga belum merilis album, yang kemudian diikuti oleh band-band indie lokal penting lainnya macam The Sweaters, Gorgeous Smile, Eta, Blossom Diary, serta proyekkan indie-rock yang terlupakan dari anak-anak punk Nudist Island, Hark Its A Crawling Tar-tar, Kontrasosial, dll saat itu dengan nama Modestic.

Delicatessen: A Poptastic! Compilation, rilisan penting untuk scene ‘indies’ lokal. Period.

=========================================================================================================

Artist: Various Artists
Album title: Delicatessen: A Poptastic! Compilation
Year: 2002
Label: Poptastic! Records
Country: Indonesia
Catalogue: Pop 02
Genre: Alternative
Style: Indiepop / Indie-Rock / New-Wave / Shoegazing / Britpop

Side A:
01. Mocca – Me & My Boyfriend (acoustic version)
02. Santa Monica – Rubin
03. The Milo – Broke (demo version)
04. Supernova – Sunset
05. Kamehame – 8.14
06. The Upstairs – Antah Berantah (early version) *

Side B:
07. Blossom Diary – She Will Never Come Home
08. Silica – My Sunday
09. The Sweaters – Ordinary Girl *
10. Modestic – I Dont Care *
11. Eta – Selama Ia…
12. Gorgeous Smile – Hingga *

DOWNLOAD (via missfairyfloss)

* track tidak ada di dalam folder

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 120 other followers