Posted in event schedule
Tags: D.I.y, KenaliRangkaiPakai, Make Your Creative Equipment, Make Your Creative Equipment #2 (Stylophone), Yogyakarta
Out now: LEDAKAN URBANISASI – Catwoman & Manohara EP (2012)
•January 25, 2012 • Leave a CommentKaget. Begitulah reaksi saya ketika diminta untuk menulis liner-notes EP Catwoman & Manohara dari Ledakan Urbanisasi. Hufft!
Oke. Sebelum membahas tentang EP Catwoman & Manohara ini, tentunya saya bakal bercerita tentang seorang Dede. Dan kalau bercerita tentang Dede, sebisa mungkin saya mempersingkat tulisan ini, mengingat kedekatan kami selama ini, sejak masa-masa awal kuliah 12 tahun yang lalu di sebuah universitas negeri, di bilangan Jatinangor, hingga akhirnya ia kembali hijrah ke Ibukota.
Dede bisa dibilang merupakan salah satu teman saya yang masih bertahan bermusik hingga sekarang. Dia adalah otak dari puluhan proyekannya yang muncul dengan berbagai macam genre berbeda. Bahkan beberapa proyekannya tersebut telah merilis beberapa single dan album yang patut disimak. Saya sendiri tidak bisa menyebutkan satu-persatu proyekan yang telah digawanginya.
Menjadi sebuah kejutan ketika saya mendengarkan satu-persatu materi debut EP dari Ledakan Urbanisasi. EP berisikan lima lagu yang menarik untuk disimak ini sedikit berbeda dengan single-album perdananya dulu, Berlayar, di mana Dede lebih fokus ke surf-music.
Di EP ini materi Ledakan Urbanisasi lebih ke anti-folk; dengan sound lo-fi a la Dede yang sudah begitu identik. Di lagu lainnya Dede bereksperimen dengan instrumen glockenspiel bersama dengan Ricky Arnold. Tak lupa di salah satu lagunya Dede juga berkolaborasi dengan Deugalih.
Mendengarkan EP ini membawamu seakan baru pulang larut malam sehabis lembur di kantor, lelah setelah seharian terjebak oleh hiruk pikuknya ibukota dan hanya menemukan gitar di kursi malasmu, serta ditemani siaran radio yang sedang memutarkan lagu-lagu Elliot Smith, Daniel Johnston, atau siapapun musisi yang pernah berkolaborasi dengan Kurt Cobain. Boleh dibilang EP ini menjadi sesuatu hal yang baru buat saya setelah mendengarkan karya-karya Dede yang lain.
So, selamat mendengarkan Catwoman & Manohara dari Ledakan Urbanisasi! – Galant
=====================================================================
Infos:
EP Catwoman & Manohara berawal dari sebuah bencana kehancuran, yang akhirnya malah melahirkan sesuatu yang baru. Ya, awal tahun 2011 kemarin saya dengan moniker alter-ego folk, Ledakan Urbanisasi, berencana untuk merilis double-album berjudul Buronan Mertua; sebuah “lo-fi rock-opera” conceptual album yang berisikan 25 lagu; separuh adalah lagu-lagu baru, sementara separuh lagi merupakan rekaman-rekaman rare era 2005-2008. Tapi sayangnya rencana tersebut pupus dikarenakan hardisk komputer saya crash.
Sadar bahwa file-file master rekaman album tersebut sudah terhapus, saya sempat ‘down’ selama beberapa bulan. Hingga di bulan Desember kemarin, saya berhasil menemukan lima track dari rencana double-album tersebut di tempat lain. Lima track yang berhasil diselamatkan pun langsung di-mastering ulang untuk dijadikan sebuah EP.
Tidak seperti single-album Berlayar (2010) yang kental nuansa musik surf / oldies, EP bertitel Catwoman & Manohara ini banyak terpengaruh musik-musik classic-dreampop, slowcore, dan juga garage. Tentu saja semua itu tetap dihantarkan dengan menu estetika lo-fi music yang sederhana, jujur apa adanya.
Meski gagal merilis conceptual double-album, tapi materi-materi yang berhasil diselamatkan ini setidaknya bisa menjadi sebuah EP dengan menu serta tema berbeda. Less is more, right?… – Dede
Tracklist:
01. Humming [intro]
02. Balada Catwoman & Manohara
03. Red Moon Running Man
04. Hujan Pertama
05. Folk Messiah
Ledakan Urbanisasi is:
Dede / vocal, backing vocal, acoustic-guitar, electric-guitar, xylophone / glockenspiel
Guest musicians:
- Ricky Arnold / xylophone on track 1 & 2 (except for the outro, done by Dede)
- Deu Galih / lead vocal on track 4
- Track 01 was recorded live @ Ricky’s house, Bandung, January 10th 2010.
- Track 02 was recorded live @ Ricky’s house, Bandung, January 2010.
- Track 03 was recorded live circa 2009 @ Grey Room, Jakarta. I forgot the detail. The notes are missing..
- Track 04 was recorded live @ Pondok Delima Merah, Jatinangor, January 2010.
- Track 05 was recorded live @ Grey Room, Jakarta, November 18th 2009.
All music by: Dede (except “Hujan Pertama” by Deu Galih)
All lyrics by: Dede
Produced by: Dede
Recorded by: Dede
Photography by: Ricky Arnold entitled “We Come in Peace”
Art direction by: Dede
Liner-notes by: Galant
Released by: In My Room Records
Release year: 2012
“Folk Messiah” is dedicated to Yadi Cubek a.k.a Aceem
Thanks to: All of you
Contact:
Phone: 08176572004 / 085691228467 / 02199295600 (Dede)
E-mail: wastedrockers@yahoo.co.uk
AFTERNOON TALK – Love Letter (free-download single)
•January 22, 2012 • Leave a CommentAfternoon Talk adalah sebuah trio indie-folk / acoustic / indiepop asal Bandar Lampung. Band ini terdiri dari Sofia (vocal) Osa (guitar, bass, ukulele, harmonica) Ridwan (guitar, drum).
Musik mereka terdengar seperti band-band macam The Do, Lykke Li, The Boy Least Likely To, dan lain-lain. Bukan berasal dari pulau Jawa tidak berarti mereka tak bisa ‘bersuara’, buktinya mereka sudah diulas oleh Hai, tampil di Java Rocking Land 2011, diulas oleh webzine indie internasional Sea Indie, dan masuk di Nylon Magazine (January 2012 issue).
Rencananya pada tanggal 15-22 Februari 2012 nanti, Afternoon Talk akan mengadakan tur
lima kota di pulau Jawa (Jakarta, Bandung, Jogja, Surabaya dan Malang) dengan tajuk “Love Letter to Java Tour 2012”. So, siap-siap untuk tonton penampilan live mereka!
Twitter: @afternoontalks
FB: Afternoon Talk
www.reverbnation.com/afternoontalk
Siaran-Pers: Buku “Danur” Karya RISA SARASWATI
•January 21, 2012 • 1 CommentSosok Risa Saraswati, mungkin lebih dikenal sebagai seorang musisi ketimbang sebagai seorang penulis. Namun, menulis rupanya menjadi passion Risa yang dipelihara sejak lama lewat oretan-oretannya dalam blog pribadinya, pun lirik-lirik lagu dari proyek musikal solonya, Sarasvati. Menuliskan pengalaman pribadinya, kisah-kisah ‘unik’ yang dialaminya ataupun yang dibagi orang lain kepadanya, demikianlah tutur Risa dalam bentuk rangkaian kata-kata.
Kali ini, menulis menjadi lebih spesial bagi Risa di mana dirinya berbagi banyak hal lewat sebuah buku yang baru saja dikeluarkannya, “Danur”. Danur adalah air yang muncul dari jasad makhluk hidup yang telah mati dan membusuk. Selintas pemilihan judul buku ini mungkin akan membuat siapapun mengernyitkan dahi. Namun, “Danur” bukanlah tanpa sembarang maksud, juga tidak menghadirkan pretensi. Bagi yang mengenal sosok Risa Saraswati yang memiliki sejumlah pengalaman dengan alam lain, “Danur” akan menjadi peranti untuk berkenalan dengan sosoknya yang unik secara lebih lanjut.
“Danur” adalah karya tulis dari Risa yang sangat jujur, sama jujurnya dengan karya musiknya di Sarasvati. Buku setebal 214 halaman yang diterbitkan oleh penerbit BUKUNE ini bercerita tentang kisah hidup Risa Saraswati dari sisi yang ‘lain’, berisi paparan-paparan cerita yang mungkin dapat dikatakan tidak lazim. Sejumlah kisah yang unik, tidak konvensional, dan dirasakan sangat perlu bagi Risa untuk dibagi kepada orang-orang yang berkenan membaca bukunya, “Danur”. Buku ini berisikan hal-hal yang sangat intim, yang selama ini tidak pernah Risa bagikan untuk diketahui umum,.
Adalah kehendak Risa agar banyak orang yang mau membaca karyanya dan mau untuk mencoba menyelami hidupnya yang unik. Pada dasarnya, lewat Danur, Risa hanya ingin berbagi, bercerita, dan inilah cara lain baginya untuk menyatakan, “I Sing, I Cry, I Play My Part…” (Pak Dosen)
Risa Saraswati tentang “Danur”
Tak mudah melalui fase kehidupan yang cukup rumit dengan usia yang rasanya belum mampu menghadapi serangkaian peristiwa tidak biasa, tak mudah menjalani hidup sebagai anak-anak normal jika semua yang kuanggap normal ternyata hal-hal tidak normal. Kuanggap tembok adalah benda hidup, sama seperti kalian.. teman-teman yang bisa kuajak berinteraksi untuk mendiskusikan apapun yang kuanggap penting. Kuanggap pohon adalah makhluk bergerak yang setiap saat bisa saja kumintai bantuan, yang setiap saat ikut bergerak saat kumelangkah, dan setiap saat melihat apa yang akan kulakukan..mencermati isi kepalaku.
Tubuhku begitu kecil saat kutahu kelima sahabatku ternyata onggokan belulang manusia tanpa kepala yang jelas jauh berbeda denganku yang masih bisa berdiri tegap, melangkah bebas, menapaki tanah, dan nyata untuk diraba. Bukan takut yang menyergap, perasaan iba muncul ke permukaan melebihi apapun yang pernah kurasakan terhadap makhluk-makhluk sepertiku.
Aku masih belia ketika akhirnya kelimanya pergi meninggalkanku sendiri ditengah bau Danur yang semakin mengusik hari-hariku. Kalian tahu apa itu Danur? Danur adalah air yang muncul dari jasad mahkluk hidup yang telah mati dan membusuk. Kututup penciumanku, kututup mataku, kututup hatiku untuk Danur-Danur baru yang muncul sepeninggal mereka.
Berjuang menyeimbangkan langkah agar tetap merasa normal hingga akhirnya kutemukan cara agar semuanya terasa baik-baik saja. Tak selamanya Danur itu menyengat dan membuatku lunglai, kelima sahabatku pergi…namun segala sesuatunya selalu sama, kepergian mereka mendatangkan sahabat-sahabat baru untukku. Pengalaman-pengalaman baru, kisah-kisah baru. Drama… selalu dipenuhi drama.
Telah kubuka gerbang dialog antara aku dan dunia mereka, telah kurangkai kisah-kisah baru. Penciumanku tetap tertutup rapat, namun kini telinga, mata, hati, dan pikiranku terbuka lebar untuk mereka..
Tak selamanya Danur itu menjijikkan…
Karena kini aku bisa mencium banyak wewangian yang muncul karenanya…
Peter, William, Hans, Hendrick, Janshen, Samantha, Jane, Ardiah, Edwin, Teddy, Sarah, Elizabeth, Kasih… adalah beberapa tokoh dari sekian banyak sahabat di proses hidupku hingga kini…
Cerita tentang mereka kurangkum dalam sebuah karya yang kuberi nama, “Danur”.
PEMANDANGAN – Bocah Pikun (video, 2012)
•January 19, 2012 • Leave a Comment“Adalah sebuah representasi citra kesenjangan sosial sisi lunatik pada masa
kanak-kanak yang kini direbut oleh sebuah pembangunan normalis kaum elitisme, terlalu banyak MSG dan diracun mutlak oleh televisi,”
Pemandangan are:
Amenk pada Gitar Akustik/vokal, Maung pada Vokal dan perkusi, Ewing pada Vokal dan perkusi
Produser : Yusuf Ismail
Sutradara : Muhammad Akbar dan Yusuf Ismail
Kameramen : Dani Supriyatna (iPhone 4), Yusuf (iPhone 3Gs dan Canon EOS 550D), Fitrah (iPhone 3) dan Akbar
Penyunting gambar dan visual efek : Yusuf dan Ismail
Disunting menggunakan iMovie dan Adobe Premiere CS5
* Diunggah oleh fluxcup













Recent Comments