Wawancara dengan SENYAWA

Senyawa semenjak tahun 2011 selalu tur keliling dunia. Hampir tiap tahun mereka selalu reguler melakukan tur ekstensif ke Australia, Jepang, Eropa dan Amerika (Utara maupun Selatan).

Semua musisi / band lokal yang selalu memakai gimmick ‘go-international’ runtuh seketika oleh Senyawa, jika dibandingkan dengan jadwal tur internasional mereka yang masif.

Pengalaman touring skala internasional Senyawa yang kaya ini mengundang penasaran kami untuk bertanya lebih jauh mengenai: sistematik cara melakukan DIY touring di luar negeri, membandingkan infrastruktur touring-circuit luar negeri dengan scene lokal, serta tips-tips apa saja yang berguna ketika sedang melakukan DIY touring di luar negeri.

Wajib dibaca oleh para band/musisi yang memiliki impian untuk tur ke luar negeri, menghasilkan uang dari tur, dan (tentunya) tanpa embel-embel sponsor korporat maupun sokongan pemerintah.

Cek wawancaranya di bawah ini.

01. Tolong di-share dong guys, urutan/sistematik cara untuk melakukan DIY touring di luar negeri (misal: apakah harus kontak booking-agent dahulu, kontak venue-venue dahulu, atau promotor lokal terlebih dahulu…)

Tur yang pertama kali selalu yang paling sulit karena musik kita belum dikenal tapi jika itu sukses, selanjutnya akan lebih mudah.

Paling gampang memang jika punya kenalan booking-agent di sana yang bersedia menggelarkan tur untuk kita. Dengan begitu kita gak perlu harus mencari venue sendiri. Tapi di zaman internet sekarang sih kita bisa menghubungi venue atau promotor lokal secara langsung.

Simpelnya ada dua cara: biaya sendiri atau dibiayai.

Untuk tur perdana, dibiayai memang sulit karena kita belum punya reputasi. Yang sanggup membiayai biasanya festival besar, yang umumnya punya niat dan dana besar untuk memperkenalkan kita.

Jika bandmu beruntung diundang dan dibiayai untuk datang ke negara mereka, manfaatkan sebaik-baiknya. Mintalah tanggal pulang yang berjarak barang seminggu atau sebulan dari tanggal main kalian di festival mereka. Dengan begitu kita bisa mulai menyusun jadwal tur DIY serta rute yang pasti. Namun biasanya semakin besar festivalnya, semakin ribet juga birokrasinya. Sebagian festival besar menginginkan ekslusivitas, mereka tak mau band kita main di area yang sama dalam waktu berdekatan. Namun jangan malu untuk negosiasi.

Setelah menyusun rute, mulailah mengumpulkan kontak. Ini sangat penting. Tur DIY tidak bisa berlangsung tanpa kenalan. Setiap negara, bahkan setiap kota punya skena DIY, dengan venue alternatif atau ruang-ruang kolektif yang umumnya selalu terbuka untuk mewadahi band yang sedang tur. Umumnya setiap gig sekecil apa pun itu, selalu ada bayarannya entah dari persenan jumlah tiket yang laku atau sudah ditetapkan sebelumnya.

Jika tidak ada festival yang mengundang atau membiayai, bakal lebih sulit tapi tetap bisa dilakukan. Hanya saja butuh persiapan lebih matang mulai dari lebih getol mengumpulkan kontak, membuat itenirary dan perencanaan keuangan yang lebih detail, hingga mau gak mau harus membuat turnya menjadi lebih panjang agar bisa untung secara finansial.

Perlu juga diingat, untuk gig-gig DIY, kebanyakan venue alternatif tidak menyediakan backline atau peralatan band. Jadi, bagi band yang pake drum agak repot karena harus bawa drum. Cara paling mudah untuk mengakalinya adalah carilah teman atau band lokal untuk tur bareng yang punya peralatan yang kalian butuhkan.

Ini juga merupakan cara paling gampang bagi band yang ingin tur DIY tapi tidak punya banyak kenalan. Cukup cari satu band lokal yang suka dengan musik kalian, punya peralatan yang kalian butuhkan, dan ajak mereka patungan untuk sewa van dsb. Nanti biar mereka yang menjadi semacam `tour manager` yang mengontak venue, menyediakan driver, dsb. Tentu saja dengan kesepakatan untuk berbagi hasil di akhir tur.

02. Apakah dengan lakukan DIY touring untuk cangkupan internasional bisa dijadikan sumber penghasilan? Karena kami melihat Senyawa sepertinya bisa. Tolong di-share dong saran untuk band-band lokal kita yang ingin turut mencoba lakukan tur DIY ke luar negeri…

Tentu saja bisa, meskipun ada tahapannya. Jika band kita menjadi digemari otomatis akan banyak tawaran dan menjalankan tur akan semakin mudah. Namun penting sekali untuk diingat bahwa tur tidak harus ke luar negeri.

Andaikan tur di dalam negeri sudah bisa menghasilkan, kenapa harus ngotot ke luar negeri? Melatih mental, stamina, dan managerial dengan sering tur di dalam negeri lebih dulu, selalu akan lebih baik begitu nanti tiba saatnya tur ke luar.

Menjadikan tur sebagai sumber penghasilan bisa terwujud apabila tur dilakukan secara rutin dan konsisten. Dan itu tak bisa dipungkiri sangat tergantung pada dua faktor: karya dan mental. Satu atau dua kali tur yang sukses bisa mendatangkan untung, tapi bila karya kita diterima dengan baik dan mental kita siap (entah itu dalam menyiasati waktu, melatih stamina, konstan memperbaiki kualitas, dan terus belajar), tur akan menjadi pekerjaan rutin.

Jadi, kesimpuannya jangan jadikan penghasilan dari tur sebagai motivasi, karena akan berbalik menjadi bumerang nantinya. Telaah saja karya yang mau kita bawa, apakah sudah layak dan bisa bersaing? Karena kalau mau menjadikan tur sebagai penghasilan, berdasar yang saya ceritakan tadi, akan banyak yang harus rela dikorbankan. Nomor satunya waktu. Jadi, jangan sampai gegabah dengan semangat yang menggebu-gebu ingin go internasional tapi ternyata karya dan mental belum siap. Semua pengorbanannya nanti akan sia-sia.

04. Di luar negeri jika band melakukan tour kelas DIY pun dibayar, kalau di Indonesia tidak. Menurut kalian, apa yang salah di infrastruktur scene DIY lokal kita? Karena pada akhirnya banyak band DIY yang ‘menyerah’ dan main di gig dengan sponsor korporat…

Promotornya.

05. Seperti apa tips-tips Senyawa jika sedang lakukan tur luar negeri, agar bisa tetap hemat biaya dan efisien?

– Untuk tur DIY, pastikan jangan banyak hari libur. Jika setiap hari kita tidak main, berarti hanya ada pengeluaran dan tidak ada pemasukan. Itu sebabnya penting merencanakan rute tur dengan matang. Upayakan main setiap hari karena dengan begitu kita tidak perlu keluar biaya untuk penginapan dan makan karena pasti ditanggung oleh panitia. Tur itu kerja, kalau mau liburan mending ikut paket wisata aja.

– Tidak perlu bawa kru panggung, soundman atau tim untuk bantu dokumentasi. Kalau ingin tur DIY, ya bersikaplah seperti band DIY, bukan band mainstream yang kemana-mana butuh orang untuk ngurusin sound, nyutingin, sampe nyetemin gitar. Meskipun sanggup bayar dan tidak keberatan ditebengin banyak orang selama tur, saran saya sih sebaiknya tidak perlu. Alasannya ya tadi itu, melatih mental. Pihak penyelenggara juga umumnya kurang sreg dengan band yang diikuti banyak kru. Lebih merepotkan mereka.

Jangan bermental turis. Berbaur dan bergaul. Selalu upayakan berbaur dengan orang dari skena lokal. Bukan saja demi pengalaman yang lebih nyata, tapi juga supaya hemat. Kita tidak akan terjebak masuk ke tempat makan turis yang lebih mahal dan seringnya kita malah akan ditraktir dan bahkan diundang makan di rumah mereka.

Mereka pun akan lebih respek dan akan bisa lebih mengenal budaya orang Indonesia yang sesungguhnya

06. Ceritakan dong tur kalian yang paling gila dan absurd, ketika sedang berada di mana? Haha..

Banyak sih bro, tapi ada pepatah, what happens during the tour, stays in tour

07. Rencana tur terdekat Senyawa mau ke mana lagi nih?

Awal September kami ke UK dan lanjut ke Australia lalu ke US. Juga tahun ini masih ada Taiwan dan Polandia.

* foto band oleh Electronic Beats

Advertisements

~ by wastedrockers on 14/08/2017.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: