Wawancara dengan MY DISCO

my-disco

Wawancara WASTED ROCKERS dengan trio experimental-rock ternama Australia, MY DISCO, yang kini sudah mengglobal namanya. Band ini memainkan heavy-music yang eklektik, mulai dari gaya post-punk dan dance-punk ala PiL / Gang Of Four, ke post-hardcore influenced math-rock ala Mission Of Burma / Slint / Shellac, hingga ke gaya post-industrial / industrial ala The Young Gods.

Di sini kami berbincang dengan: Ben Andrews (gitar), Liam Andrews (vokal / bass) & Rohan Rebeiro (drums). Wawancara dilakukan beberapa jam sebelum show mereka di Jakarta (18/2/2017). Simak saja langsung.

01. Jadi apakah ini tur pertama kalian di 2017? Apakah akan jadi sebuah major-tour?

Liam: Sebelumnya awal tahun ini kami juga sudah tur keliling Australia. Mungkin sudah melakukan lima show di sana. Sudah hampir dua tahun setelah melakukan tur promo untuk album Severe (2015), jadi mungkin setelah tur ini selesai kami akan mulai membuat album lagi.

Ben: Setelah Australia kemarin, lalu bakal ada tujuh show di wilayah Asia Tenggara (Indonesia-Malaysia-Singapura). Setelah itu kami belum tahu lagi.

02. Ini adalah tur ketiga kalian di Indonesia. Ada hal baru yang kalian ekspektasi?

Ben: Kami belum pernah ke Semarang dan Surabaya. Sebelum ke Jakarta, kami kemarin ke Bali untuk relaksasi.

Liam: Sangat menarik, mengingat album terakhir kita kini sudah ada yang merilis versi lokalnya dalam format kaset. Jadi kami sangat bersemangat.

03. My Disco terus mengubah sound-nya, mulai dari post-punk ke math-rock, dan kini industrial. Apa alasannya?

Ben: Kami senang untuk menekan diri kami sendiri, untuk melakukan hal-hal baru dan menarik. Jika melakukan pengulangan sound di tiap album sangat membosankan bagi kami. Sangat menarik untuk terus mengembangkan ide-ide baru dengan beberapa instrumen baru.

04. Jadi sekarang kalian mulai menggunakan instrumen-instrumen baru?

Ben: Kemarin-kemarin kami bekerjasama dengan dengan seorang produser (yang juga komposer musik serta score film ternama Australia), Cornel Wilczek, asal Melbourne, yang juga memiliki banyak efek-efek keren. Dan kami merekamnya (album Severe) secara live. Jadi ia lumayan memberikan pendekatan baru untuk kami.

05. My Disco juga terus gonta-ganti produser untuk tiap album, mulai dari: Steve Albini (The Pixies / Nirvana / Mogwai / Neurosis / Jarvis Cocker / Manic Street Preachers / Wedding Present / Helmet / Fugazi, dll.), produsernya Silverchair (di album Young Modern) Scott Horscroft, & Cornel Wilczek (untuk album Severe). Mengapa?

Rohan: Menurut saya, yang terakhir ini (album Severe) masuk ke wilayah baru. Cornel adalah salah satu kawan kami dari satu kota yang sama (Melbourne). Jadi kami merasa nyaman untuk bereksperimen, tanpa harus mencemaskan rekaman yang terburu-buru. Kami juga mendapat pencerahan baru untuk hal produksi dan mixing. Hal itu sangat bagus untuk kami.

6. Ada beberapa nama besar dari scene industrial yang me-remix lagu-lagu kalian, seperti: Justin Broadrick (Godflesh / JESU), Lustmord & Factory Floor (band industrial asal UK rilisan DFA Records). Bagaimana ceritanya? Kalian ketemu dengan mereka ketika sedang tur? Atau bagaimana?

Ben: Kami kenal Justin Broadrick karena label rekaman perwakilan kami di AS (Temporary Residence Limited) yang mengenalkan kami, dan ia (Justin) mau me-remix lagu kami. Factory Floor kami kenal karena pernah manggung bareng mereka kalau tidak salah dua kali di London. Kalau Lustmord kami kenalan via internet beberapa tahun lalu, agar bisa melakukan gig bareng, dan kami memintanya untuk me-remix lagu kami. Namun hingga kini kami belum pernah ketemu langsung dengan orangnya (Lustmord). Haha..

6. Apakah ada rencana untuk kolaborasi baru yang ingin kalian lakukan ke depannya?

Liam: Ada beberapa ide, namun masih terlalu prematur untuk mengatakannya.

Rohan: Baru niatan. Masih jauh lah.

6. Sudah dua tahun semenjak perilisan Severe (2015), apakah kalian sudah menulis materi-materi baru? Apakah bakal berubah lagi sound-nya?

Ben: Belum. Itulah rencananya. Haha..

Rohan: Mungkin saat ini waktu bukanlah hal penting. Mungkin kami akan mulai mengerjakan materi baru tahun depan. Kami pikir tidaklah perlu untuk buru-buru.

7. Apakah album baru kalian nanti bakal dirilis pula oleh Temporary Residence Limited? Atau label lainnya?

Ben: Belum pasti. Masih jauh.

8. Akhir-akhir ini banyak band Aussie yang mendapat ekspos besar seperti Tame Impala dan King Lizard & the Wizard Gizzard-whatever. Hahaha… Apakah ada rekomendasi band indie Australia yang patut kami dengar? Atau yang sedang kalian dengarkan saat ini?

Ben: Banyak musik-musik underground yang bagus di Melbourne. Tapi yang banyak kami dengarkan mungkin dari musik-musik electronic bernuansa kelam. Kebanyakan masih berstatus DIY. Sementara Tame Impala dan King Gizzard and the-whatever itu adalah band-band besar.

9. Seperti apa scene industrial-music di Australia dan Melbourne khususnya?

Ben: Kecil. Namun scene-nya berinteraksi secara crossover, dengan scene dance-music, bahkan juga dengan scene hardcore/punk. Jadi mungkin kamu akan melihat anak noise tampil di gig hardcore, juga gig electronic music.

Rohan: Mungkin bukan “scene” sepenuhnya. Namun banyak musik underground di Melbourne yang memiliki pengaruh industrial di dalamnya.

10. Karena industrial lahir dari post-punk, setahu saya Australia memiliki scene post-punk yang sangat berpengaruh di era dekade 80-an (baca: Little Band Scene), dan The Primitive Calculators adalah salah satu band terbaiknya, yang juga berasal dari Melbourne…

Ben: Mereka masih aktif.

Liam: Tiga-empat tahun lalu mereka baru saja reunian.

11. Band Indo apa yang sedang kalian sedang dengarkan?

Ben: Saya sangat suka duo dari Jogja yang bernama Senyawa. Sekarang mereka sudah populer di luar negeri. Saya mulai mendengarkan mereka sejak setahun yang lalu. Vokalnya menarik, juga sound-nya. Kalau dari sini (Jakarta) saya suka Vague. Saya pernah menonton live mereka beberapa kali.

12. Kemarin-kemarin ini Senyawa baru menolak tawaran dari Sub-Pop…

Ben: Beneran? Hahaha..

13. Bagaimana ceritanya kalian bisa rekaman dengan Steve Albini?

Ben: Kami menonton Shellac beberapa kali. Shellac pernah dua kali tur Australia. Kami pernah manggung bareng dengan mereka lima tahun yang lalu di Melbourne. Ngobrol-ngobrol. Baru-baru ini kami juga ketemu mereka lagi ketika sedang tur di Perancis.

Steve masih sibuk dengan studionya (Electrical Audio). Mungkin dengan pola kerja My Disco dalam berproduksi saat ini sudah tidak lagi cocok dengan gaya kerja Steve dalam merekam album.

Rohan: Dia masih terus kontak kita, dan menanyakan kapan rekaman lagi di studionya. Hahaha… Becanda.

14. Apakah Steve Albini terbuka untuk merekam album dari band-band baru?

Ben: Ya. Ia mau merekam siapapun. Siapapun yang booking studionya bertepatan dengan jadwal kerja Steve, ia akan merekamnya.

15. Apakah mahal rekaman di Electrical Audio?

Liam: Menurut saya tidak, jika dibandingkan dengan studio-studio rekaman di Australia. Ya, Steve masih menawarkan harga yang masuk akal.

16. Saat ini para personil My Disco tinggal berjauhan, Ben di Jakarta, Liam di London dan Rohan di Melbourne. Bagaimana caranya agar band bisa tetap aktif?

Ben: Harus membuat banyak perencanaan ke depannya, contohnya untuk enam bulan atau setahun ke depan. Selain itu, kami saat ini juga ingin ngeband yang santai. Tidak perlu lagi terlalu produktif seperti dulu.

Liam: Justru saat ini kami jadi lebih fokus dalam bekerja (menulis lagu, rekaman) ketika berjumpa satu sama lain. Jadi lebih efektif. Contohnya seperti ketika mengerjakan album Severe.

17. Apakah masing-masing dari kalian memiliki band proyek sampingan? Yang saya tahu Ben juga main di Agents Of Abhorrence (band powerviolence / grindcore keren yang kalian harus dengar).

Ben: Ya kami (Agents Of Abhorrence) baru saja reunian. Kemarin sempat bubar karena vokalisnya keluar dan drummer-nya mainnya tidak bisa ngebut. Hahaha..

Liam: Saya tidak punya. Mungkin karena fokus saya yang lain tidak di musik.

Rohan: Ya saya ada proyek electronic-music bernama Kangaroo Skull, yang telah merilis sebuah EP berjudul Palace Of Nothing. Musiknya semacam mix antara techno dengan… funk? Haha..

18. Kata-kata terakhir untuk para pembaca di Indonesia..

Ben: “Sedikit maaf” dan “Tidak tahu”.  *Ben mengatakannya dalam Bahasa.

Liam: Sangat senang untuk kembali tur ke sini. Karena memori dari tur pertama kali kami ke sini (tahun 2005) sangat menyenangkan.

* Cek sampel album Severe (2015) dari My Disco di bawah ini.
* Terima kasih kepada Alternaive dan Grieve Records
* Foto oleh Stuart Buchanan

Advertisements

~ by wastedrockers on 19/02/2017.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: