Uprock83 #5 fanzine

uprock83-5

Uprock83 #5 fanzine (November, 2016)

Tujuh tahun lamanya kami tinggal di Jatinangor-Bandung (2000-2007), selama itu pula kami banyak membaca tulisan-tulisan karya Morgue Vanguard a.k.a Ucok (Homicide / Trigger Mortis / Bars Of Death). Entah via trading antar sesama penulis fanzine, atau diberikan gratis oleh teman-teman scene.

Saking banyaknya tulisan Ucok yang kami baca, hingga lupa judul-judulnya. Tapi kami coba runut di sini. Mulai dari tulisan-tulisannya di literatur-literatur terbitan Harder Records (R.I.P) tahun 1999, beberapa zine hardcore/punk era 2000-an awal, hingga ke leaflet-leaflet politik radikal tahun 2007.

Tapi seiring kami kembali ke Jakarta pada 2008, kami mulai jarang membaca lagi tulisan-tulisan karya Ucok. Tapi sepertinya di era itu pula Ucok juga mulai jarang menulis.

Dua-tiga tahun terakhir kami melihat kalau Ucok mulai sering menulis tentang hip-hop. Sesuatu yang sangat jarang sekali kami lihat di era akhir 90-an hingga era 2000-an; Ucok saat itu terlihat lebih dekat ke scene hardcore/punk ketimbang hip-hop itu sendiri.

Kami juga pernah membaca di sebuah zine pada awal 2000-an, kalau Homicide ditolak oleh Hip-Hop Indo, dengan alasan konyol ‘musik mereka lebih nge-punk ketimbang hip-hop’. Ya, sekali lagi scene lokal kita di era 90 hingga 2000-an awal memang masih minim informasi, sehingga  masih banyak sekali salah kaprah.

Jadi ketika akhirnya Ucok memutuskan untuk membuat fanzine musik tema hip-hop mungkin adalah sesuatu yang baru bagi kami. Uprock83 sendiri kami tidak mengikuti perkembangannya. Namun baru di edisi kelima Uprock83 dijadikan format fanzine yang tebal (edisi ini memiliki 58 lembar halaman) dari yang sebelumnya berformat newsletter.

Membaca Uprock83 seperti melihat selera hip-hop nya Ucok, serta album-album hip-hop penting bagi dirinya. Terasa personal. Seperti makna sebenarnya dari ‘fanzine’, yakni publikasi mandiri yang dibuat oleh fans (penggemar). Jadi jangan berharap kalau konten Uprock83 bakal dipenuhi oleh berita dan ulasan-ulasan terbaru seperti majalah musik pada umumnya.

Hampir semua grup rap / album penting hip-hop di era Golden Age (akhir 80-an – awal 90-an) dibahas di Uprock83. Namun Ucok tetap membuat Uprock83 terasa segar dan relevan, dengan pula membahas sejumlah MC (baik mainstream maupun underground) generasi 2000-an akhir serta 2010-an, macam Kendrick Lamar, Ka, dan Rast RFC.

Untuk konten lainnya di Uprock83, ada artikel membahas tentang Janette Beckman (fotografer penting di scene hip-hop era awal), Hip-hop Era Tahun 1991, resensi album-album hip-hop esensial tahun 1991, resensi album-album hip-hop rilisan 2016, daftar album-album penting dari para kontributor (Iwa.K, Doyz dari Blakumuh, dll.), ulasan demo-demo hip-hop langka, Kebangkitan Punk-Rock B-Boy & resensi buku-buku hip-hop.

Membahas mengenai gaya penulisan, jika mengacu pada literatur politikal karya Ucok 10 tahun lalu yang berapi-api, serta penulisan di zine-zine personalnya yang penuh melankoli, maka di Uprock83 tulisan Ucok mirip seperti jurnalis musik profesional.

Kami sangat suka cara Ucok mendeskripsikan musik yang ia ulas; begitu musikal. Untuk hal ini, kami sedikit setuju dengan pendapat bahwa dalam jurnalisme musik, ada baiknya kalau sang penulis juga bermain musik, karena tentu dapat mengubah dengan baik ‘rasa’ dari musik yang diserap ke dalam penulisan.

Lalu jika kita bicara mengenai kemasan,  maka Uprock83 sudah menaikkan standar untuk fanzine di lokal. Di sini Uprock83 dicetak profesional secara off-set, didukung pula dengan layout yang rapih.

Ya, sudah saatnya juga scene fanzine lokal mulai memperbaiki kualitas pengemasan. Kami sudah bosan dengan fanzine lokal dengan kualitas fotokopi yang buruk dan layout berantakan, dengan berlindung di balik alasan ‘D.I.Y’. Tidakkah kalian terinspirasi atau minder melihat kualitas pengemasan dan konten dari fanzine-fanzine so-called-DIY di luar negeri saat ini?

Kembali lagi ke hip-hop, satu hal yang kami selalu gerah dibuatnya, adaptasi kultur hip-hop di Indonesia, selalu hanya ditengok dari sisi ‘bling’ serta ‘swag’-nya saja. Tak heran jika di lokal banyak muncul rapper-rapper poser / abal-abal, dengan lirik dangkal, karena mereka tidak mendalami akar dari hip-hop itu sendiri.

Mengenai kultur menulis fanzine/zine di scene hip-hop itu sendiri, sebenarnya sudah lama ada di AS. Kami tidak tahu apakah fanzine hip-hop di lokal sudah ada sebelumnya di era 2000-an atau 90-an (kalau ada, coba beri tahu kami, beserta buktinya). Jadi, terima kasih kepada Uprock83 untuk me-represent fanzine kepada scene hip-hop lokal.

Membahas paragraf di atas lagi-lagi mengingatkan kami akan diskusi dengan beberapa kawan beberapa tahun yang lalu mengenai adaptasi kultur jazz dan hip-hop di Indonesia yang ‘gagal’. Karena yang diserap hanya pakaian luarnya saja, tidak mendalam atau keseluruhan elemennya. Buktinya, pernahkah kalian mendengar celotehan: “ah, hip-hop/jazz mah musik-musik gaul…” Sebuah hal yang sangat kontras di negara asli pengimpor musik-musik tersebut.

Makanya kami selalu beranggapan (sejauh ini) kalau musik-musik bawah tanah dari AS / Eropa yang berhasil diadaptasi di Indonesia masih tetap: punk, hardcore, indie (alternative) & metal. Sorry to say.

Tapi mungkin saja anggapan kami ini salah, karena kami juga tidak menyelami secara dalam scene hip-hop lokal. Bisa saja di internalnya hal itu sudah banyak berubah. You tell me.

Kembali lagi ke Uprock83. Mudah-mudahan dengan dirilisnya fanzine ini dapat mencerahkan scene hip-hop lokal. Meski eksponennya masih ‘orang-orang lama’. Padahal seharusnya yang melakukan hal ini di scene hip-hop lokal adalah anak-anak generasi 2010-an! Entah itu fanzine atau webzine, harus ada ‘anak baru’ yang melakukan/meneruskannya.

Bersama dengan The Lack Of Modern Life, Those Boys Think You Are Boring dan Popcore (yang ketiganya datang dari scene twee/indiepop Jakarta), Uprock83 adalah fanzine musik lokal terbaik yang kami baca dalam kurun waktu empat tahun terakhir.

* klik ke SINI jika ingin membeli Uprock83 edisi #5

~ by wastedrockers on 13/11/2016.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: