LASS – Son Of The Wood EP (2016)

lass-son-of-the-wood

Lass – Son Of The Wood EP (2016)

Pasca keluar dari Cherry Bombshell pada tahun 2000, Widi Ariani (vokalis) sebenarnya pada dekade 2000-an masih tetap aktif bermusik, dimulai dengan Lass (2004-2006), dan dilanjutkan oleh Silverglaze (2009-2010).

Namun sayangnya kedua proyek tersebut terbengkalai. Padahal jika diseriusi, bukan tidak mungkin kedua band milik Widi tersebut kini bisa sebesar The Milo, Pure Saturday, Homogenic, Mocca, dan band-band indie papan atas Bandung lainnya.

Tapi sekali lagi, takaran bagus dan kehebatan sebuah band tidak bisa diukur dengan tingkat kepopuleran. Lalu, passion dan minat seseorang pun kadang berganti seiring dengan berjalannya waktu.

Hingga akhirnya sebuah label rekaman indie asal Jakarta era 2010-an, Anoa Records, yang salah satu pendirinya adalah seorang Cherry Bombshell head, memutuskan untuk merilis semua materi dari proyek-proyek musik Widi yang terbengkalai.

Lass terdiri dari Widi (vokal) dengan Loeloe (bassist, teknisi rekaman, produser, penulis musik). Loeloe adalah seorang figur di Bandung yang sudah banyak membesut rekaman-rekaman band independen Kota Kembang tersebut. Ia pun pernah membentuk band indie-rock bernama Modestic yang turut mengisi di album kompilasi legendaris untuk scene indies lokal, yakni Delicatessen: A Poptastic! Compilation (Poptastic! Records, 2002).

Selain Loeloe dan Widi, pengerjakan Son Of The Wood EP juga dibantu oleh sejumlah musisi session.

Tercatat hanya ada empat buah lagu yang berhasil direkam oleh Lass, yang dua di antaranya pernah kami dengar di era MySpace dulu. Dibuka dengan track yang cukup kencang dan heavy “Prologue” dan ditutup dengan lagu bernuansa ethereal nan dreamy “Son Of The Wood”.

Mungkin bakal ada yang bertanya: “Apa sih bedanya Lass dengan Silverglaze?” Di Lass, Widi lebih mengeksplor kemampuan vokalnya, dengan aransemen harmonisasi yang berlapis-lapis. Untuk musiknya pun terasa lebih loose, lebih diverse, tidak terlalu mengkhususkan ke gaya tertentu. Sementara Silverglaze lebih cenderung ke gaya indiepop dengan aransemen musik yang lebih tight.

Kekurangan rilisan ini mungkin ada di bagian artwork-nya yang tidak optimal, padahal banyak desain yang lebih pas untuk mewakili musik Lass. IMHO.

Harapan kami untuk Lass mungkin sama ketika mengulas Silverglaze; mereka bisa reunian atau setidaknya manggung sekali lagi untuk terakhir kalinya.

Genre musik: Dreampop, Indie-Rock, Alternative-Rock.
Untuk penggemar: The Sundays, Cranes, Belly, Cocteau Twins

~ by wastedrockers on 16/10/2016.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: