Jatinangor, Micro-Scene, Cold-Wave & Knurd Hamsun

KNURD HAMSUN

Micro-Scene:

Jatinangor, kota satelit penyangga Sumedang yang letaknya di tengah-tengah; masih jauh sekali dari kota Sumedang, ke kota Bandung pun masih berjarak 20 km.

Kota mahasiswa ini memiliki beberapa kampus besar di dalamnya. Karena penduduknya mayoritas di usia produktif, tak heran banyak muncul kreasi dari wilayah tersebut. Scene musik indie di Jatinangor? Ya, ada, tapi lebih ke micro-scene, karena jumlah orangnya tidaklah banyak. Scene ini pun (biasanya) tidak berumur panjang dan bersifat temporer.

Berdasarkan hasil diskusi di warung kopi dengan beberapa kawan bertahun-tahun yang lalu, kami pernah mengutarakan sebuah teori; scene musik (di sini kita bicarakan komunitas maupun tongkrongan) di sebuah kota mahasiswa tidak akan pernah awet, namun tetap akan ada regenerasinya yang berasal dari kelompok berbeda (bukan dari komunitas yang sama).

Teori di atas pun cukup ampuh pembuktiannya, karena mahasiswa rantau sifatnya masih berpindah-pindah dan belum menetap pasti.

Scene yang terisolir:

Sejarah telah membuktikan bahwa musik-musik baru dan segar banyak lahir di wilayah-wilayah yang terisolir. Jatinangor terisolir dari silaunya scene indie kota Bandung. Band-band muda di Bandung saja masih susah untuk naik ‘strata indie’ di sana, maka sudah bisa ditebak nasib band-band muda dari pinggiran Bandung…

Beruntung, karena terisolir dan wilayah kecil, segala unsur di dalam micro-scene Jatinangor cukup solid. Mereka seperti “the scene that celebrates itself” (jika meminjam istilah populer scene pre-shoegazing di Inggris); membuat band proyek seenaknya, membuat gig sendiri, membuat publikasi sendiri, hingga membuat label sendiri.

Hasilnya: beberapa alumni micro-scene Jatinangor bisa menjadi sesuatu yang cukup definitif untuk genre musik yang mereka mainkan. Terlepas mereka jadi populer atau tidak.

Cold-Wave:

Cold-wave  adalah sub-genre musik yang cukup baru di Indonesia. Perkenalan kami secara tidak langsung dengan sub-genre ini adalah ketika mengunduh lagu-lagu milik Métal Urbain pada tahun 2003 via situs-situs legendaris kala itu, Epitonic (surprisingly, masih eksis!) dan Music Download (rest in peace). Saat itu masih dengan tagging “new-wave”, belum cold-wave (atau proto-coldwave) seperti yang dipaparkan secara lengkap penjabarannya di banyak situs musik saat ini.

Kembali ke Jatinangor 13 tahun kemudian, pada akhir 2015 lalu ada sebuah duo yang tak terdeteksi radar, merilis sebuah EP dengan musik cold-wave. Mereka adalah Knurd Hamsun.

Knurd Hamsun:

Knurd Hamsun adalah duo yang terdiri dari Eka Nurradhi dan Mirza Pahlevi W. Duo ini memainkan style cold-wave yang sound-nya seperti perpaduan minimalistic drum-machine/synth ala SuicideMétal Urbain dan Kraftwerk (awal), dengan kekelaman musik seperti band-band dark-wave / goth / post-punk Inggris era 80-an.

Menjadi populer itu bonus, mampu memberi pencerahan ke scene lokal itu adalah terberkati. “Berkat yang barokah”. Sama seperti EP Slauerhoff (2015) dari Knurd Hamsun yang dirilis secara digital oleh Barokah Records pada akhir 2015 lalu. Kemudian di 2016 ini juga dirilis dalm format kaset oleh Nanaba Records. Klik ke SINI untuk membeli kasetnya.

~ by wastedrockers on 08/03/2016.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: