Memperkuat Jaringan di Asia serta Paradigma Lama “Go-International” ke Barat

Frequency Asia vol.1

Kami dikirimi album ini akhir 2015 lalu oleh kawan-kawan Frequency Asia (Singapura / Australia). Frequency Asia Vol.1 (2015) adalah album kompilasi sampler hasil kurasi webzine / label / podcast radio, Frequency Asia.

Kami pertama kali mengetahui Frequency Asia sejak tahun 2014, via akun podcast mereka di Soundcloud (kini tak lagi aktif) yang men-streaming lagu band-band indie/DIY dari seluruh penjuru Asia dan Australasia.

Apabila kami tidak baca secara mendetail liner-notes di  Frequency Asia Vol.1 mungkin album ini akan “lewat” saja; didengarkan lalu ditaruh di rak.

Frequency Asia dibangun oleh Luke Hansford asal Australia yang sempat tinggal di China selama lima tahun, dan kini tengah menetap di Singapura.

Adalah tulisan liner-notes dari Luke lah yang membuat kami harus mewacanakannya. Baca liner-notes nya di bawah ini:

“It always struck me ass odd, that a band from Brisbane or Beijing would choose to invest thousands of Dollars into going to SXSW, just to play in front of 20 people in the back of a BBQ restaurant. When actually they could grab a US$200 Air Asia ticket and do gig in Kuala Lumpur, in front of hundred people,”Luke Hansford

Semenjak membacanya, tulisan di atas selalu terngiang di kepala kami…

================================================================================

Semenjak era internet, dunia menjadi semakin rapat. Semuanya jadi serba mudah dan terhubung. Jadi apakah istilah “Go-International” masih relevan? Lalu apakah istilah “Go-International” melulu harus mengacu ke AS dan Eropa? Hal-hal inilah yang harus kita pertanyakan dan definisikan kembali.

15 tahun terakhir ini sudah banyak sekali band indie/underground Indonesia yang tur ke luar negeri, merilis album di luar, dan diliput oleh media luar negeri. Jadi mungkin sudah bukan sesuatu yang luar biasa lagi.

Slogan ‘Think globally, act locally’ mungkin harus terus dipromosikan. Konteks ‘local’ di sini mungkin sudah mencakup wilayah Asia, karena akses networking/touring-circuit sudah lebih mudah. Scene indie/underground di Asia pun kini sudah semakin solid, berkat kehadiran banyak media baru, yang di antaranya adalah: Frequency Asia dan Unite Asia.

Memang cukup miris, band-band indie lokal menabung uang hingga puluhan juta Rupiah, hanya untuk tampil di depan 15 orang penonton di SXSW, hanya demi mendapatkan status pernah manggung di AS dan “Go-Internasional”. Padahal dengan uang sebesar itu mereka bisa menggelar tur mandiri ke puluhan kota di Indonesia, bahkan juga tur Asia.

Sudah banyak artis lokal yang berusaha menembus pasar AS dan Eropa, bahkan dengan cara tinggal bertahun-tahun di sana, tapi gagal.

Liner-notes di atas sebenarnya lebih pada mengingatkan kita pada realitas. Bukan maksud untuk jadi rendah diri, tapi lebih pada menyadari akan potensi jaringan scene regional yang kita miliki saat ini.

================================================================================

Kalau bicara mengenai kualitas musik dari scene underground di Asia sudah tak perlu ditanyakan lagi, dan hal itu harus kita banggakan. Contohnya: beberapa bulan yang lalu Senyawa (yang sudah sering tur luar negeri dan merilis album via label-label di Eropa) menolak tawaran dari label rekaman legendaris sebesar Sub Pop (AS), dengan alasan tidak mau “sell-out”. Kita kurang hebat apalagi coba? 😉

~ by wastedrockers on 11/02/2016.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: