Sloppy Writing for Sloppy MAC DEMARCO (short essay)

Processed with VSCOcam with g3 preset

Ok. Lets face it. Sekarang sedang ramai tren retro “90s revival”. Band-band muda di AS, Eropa dan Indonesia kini beramai-ramai mengambil pengaruh dari kultur late 80s – early 90s indie underground.

Band-band muda tersebut mendapat ekpos dari media-media besar. Salah satu contohnya adalah MacDemarco, singer-songwriter muda indie-rock asal Kanada. He still very young (bahkan ketika grunge/underground-alternative masuk ke mainstream, yakni tahun 1990, ia baru lahir!).

Di era “90 revival” saat ini bisa dibilang kalau DeMarco adalah salah satu yang terpopuler, meski ia masih berstatus artis indie.

Pada 22 Januari 2015 lalu Studiorama dengan Prasvana mengundang DeMarco untuk tampil di Jakarta, tepatnya di The Foundry, SCBD. Ternyata jumlah penonton cukup ramai!

I dunno. Mungkin karena akhir-akhir ini sejumlah media besar macam Rolling Stone AS atau Spin juga turut meng-cover DeMarco (terlebih pemberitaan mengenai pelelangan sepatu miliknya di eBay beberapa waktu yang lalu), sehingga banyak penonton non kultur indie yang juga turut datang.

Konser dibuka oleh Jirapah. Sebelumnya saya tak pernah percaya hype sebuah band, sebelum menonton langsung aksi live-nya atau mendengarkan rekaman musiknya. Sekarang sudah terbukti, Jirapah memang betul bagus! Tak sabar untuk mendengar album mereka.

Kelar Jirapah, Mac DeMarco tampil. Belasan lagu dimainkan, lengkap dengan “hits” nya. Penonton pun terhibur.

Namun ketika setlist habis, sementara penonton masih terus meminta encore, terlihat kalau DeMarco seperti ‘mati gaya’; ia mulai meng-cover asal beberapa lagu milik orang lain serta membuat aksi noise/feedback yang cukup mengganggu. Dari sini mulai terlihat mana penonton kalangan indie-kid yang betul-betul into DeMarco’s music, dan mana yang datang hanya karena hype.

Entah sampai kapan tren 90s revival ini akan berlangsung. Tentu jika tren ini berlalu, musisi seperti DeMarco tidak akan mudah lagi mendapat ekspos masih seperti saat ini, karena musik yang ia mainkan cukup ‘underground’ untuk ukuran rock/pop mainstream.

Meski DeMarco melabeli musiknya sebagai “jizz-jazz”, tapi faktanya ia tak banyak berbeda dengan para musisi lo-fi/indie-rock pendahulunya di AS.

Refleksi konser ini untuk scene lo-fi/indie-rock lokal, akankah mereka juga bisa mendapat audiens lokal dari kalangan mainstream? Kapankah?

Oh iya, kudos untuk Studiorama dan Prasvana yang berani mengundang artis internasional yang tepat sedang di masa populernya, tidak seperti EO lokal kebanyakan; mengundang seorang artis ketika sudah tak populer lagi. 😛

* Thanks Megalauman for the photo

================================================================================

Bonus:

 

~ by wastedrockers on 25/01/2015.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: