Wawancara di Paruh Waktu dengan BANDA NEIRA

Menemukan Banda Neira di tengah sumpeknya kota terasa membebaskan. Seperti susu segar yang menenangkan di pagi hari, Banda Neira enak dinikmati sambil lalu tapi juga bergizi untuk dikonsumsi. Ananda Badudu, seorang wartawan dan Rara Sekar, pekerja sosial secara iseng duduk dan menghasilkan mini-album yang diberi tajuk Di Paruh Waktu yang berisikan lagu lagu yang santai nan kontemplatif. Mari simak obrolan bersama mereka, tentang menulis lirik bahasa Indonesia, pengaruh sastra dalam lirik lirik mereka dan efek AADC buat band ini.

T: Terbentuk di Februari 2012, gimana sih Ananda Badudu dan Rara Sekar bertemu?

Ananda (A): Ketemu Rara gimana? Sepertinya pertama ketemu itu tahun 2009. Kayanya waktu itu Rara lagi nongkrong sama temen-temennya di taman FISIP Unpar, terus saya lagi bagi-bagi selebaran kampanye calon presiden mahasiswa, terus ketemu deh dan kenalan pas bagi-bagi selebaran itu. Kalo ga salah sih begitu.

Rara (R): Ketemu Ananda, kapan ya? Kayanya awalnya cuma sering liat aja di FISIP, pas aku baru masuk, dia lagi nyalonin diri jadi Presiden Mahasiswa. Kalau pertama kali berinteraksi (secara tidak langsung) adalah ketika suatu hari tiba-tiba ada komen di blog-ku dari Ananda Badudu. Padahal ga kenal tuh, hahaha lalu akhirnya kenalan beneran sih, lupa kapan, tapi yang pasti aku daftar UKM Media Parahyangan di mana Nanda itu adalah Pemimpin Umumnya.

T: Format duet akustik begini memang paling asik, harmonisasinya juga dapet, siapa yang pertama kali datang dengan ide membuat band ini?

R: Awalnya aku ngajakin Nanda buat maen di Sorge karena aku males organ tunggal (?). Haha terus berhubung kita berdua penggila Bon Iver, kayanya seru aja kalau duet iseng-iseng di Sorge kelulusanku. Tapi pada saat itu, ga terpikir bahwa ini bakal jadi band beneran. Sampe sekarang pun kita masih ngeliat Banda Neira sebagai sarana berekpresi  dan berbagi cerita di paruh waktu saja. Tidak lebih tidak kurang.

A: Rara sih yang pertama kali ngajak main bareng. Waktu itu Rara wisuda terus diminta nyanyi di pesta lulus-lulusan, gigs-gigs-an plug and play di Unpar bernama Sorge. Rara terus nanya bisa ngiringin ga, terus saya oke deh hayu. Terus mainnya kacau karena kami dah lama ga ketemu. Sekalinya ketemu langsung manggung, haha, ngaco. Lalu setelah main di Sorge itu saya ngasih ide-ide lagu yang sudah lama ngejentrung di laptop tapi ga tau mau diapain. Terus Rara mau tuh diajak garap bareng. Lalu Banda Neira jalan terus deh sampai sekarang.

T: Apa sih yang Banda Neira dengarkan sehari hari dan siapa yang jadi inspirasi buat Banda Neira?

A: Saya suka dengar The Cure, Float, Sore, Efek Rumah Kaca, dkk. Inspirasi? Inspirasi sih bisa macem-macem. Bisa berita di koran, buku-buku sastra, kegalauan pemuda-pemudi sehari-hari, perjalanan pulang dari kantor ke kosan. Wah, macem-macem sih.

R: Kalau aku dengerinnya Noah & The Whale, Feist, Mumford & Sons, The Civil Wars, The Weepies, Float, Kings of Convenience, Kimbra, Iron & Wine, Beirut, Bon Iver, juga penggemar berat Dinah Washington, Ella Fitzgerald, Manhattan Transfer, Simon & Garfunkel, dan masih banyak lagi. Sementara inspirasi, banyaknya datang dari kehidupan aja, dan hampir selalu, pas lagi tutup mata. Hahaha.. (Nanda pernah jadi saksi, krik)

T: Lirik liriknya Banda Neira bagus bagus, bahasa Indonesia itu memang enak kalo dinyanyikan dengan tepat dan buat saya Banda Neira berhasil, siapa yang menulis lirik?

A: Menulis lirik selalu berdua. Lirik di lagu “Kau Keluhkan”, “Di Atas Kapal Kertas”, dan “Ke Entah Berantah” adalah hasil diskusi berdua. Biasanya saya datang ke Rara dengan ide lirik yang belum tuntas. Masih kosong di beberapa bagian, terus Rara isi yang kosong-kosong itu. Walau kita punya pengalaman pribadi yang beda, tapi ternyata nyambung-nyambung aja pas bikin lirik. Ada juga lagu-lagu baru yang belum sempat direkam seperti “Di Beranda”, “Kisah Tanpa Cerita”, bikin liriknya berdua.

R: Lirik itu memang kontribusi kita berdua, tapi seringkali Nanda datang udah ada lirik awal, tapi ada kosong-kosong. Lalu aku hadir mengisi kekosongan itu. (?) Haha. Awalnya ngiranya sih apaan nih pasti ga mungkin beresin lagu kaya gini. Lagu pertama yang kita cobain bikin dengan metode saling isi ini adalah “Kau Keluhkan”. Eh ternyata lumayan berhasil. Ga nyangka pengalaman pribadi dua orang ada juga irisannya, haha

T: Kenapa memilih Bahasa Indonesia?

R: Pertama, karena bahasa Indonesia itu indah. Kedua, karena menurutku bahasa ibu bisa lebih mengungkapkan apa yang sebenernya kita rasakan. Terkadang pakai bahasa asing suka menimbulkan distorsi makna, sehingga banyak lagu yang pakai bahasa inggris misalnya, walau secara tata bahasa tepat, tapi maknanya kurang tersampaikan. Nah berhubung skill kita terbatas di bahasa Inggris, jadi ga mau ambil resikonya hahaha panjang-panjang penjelasan padahal intinya ‘ga bisa’.

A: Karena saya ga bisa nulis lirik bahasa Inggris (?) Haha. Rara mungkin bisa. Tapi kita juga ga berniat bikin lagu dalam bahasa Inggris atau bahasa-bahasa lainnya sih.

Kalau saya pribadi ngerasa lirik bahasa Indonesia itu menantang karena menuntut penguasaan bahasa yang lebih. Semacam tersadarkan bahwa ternyata saya ga betul-betul menguasai bahasa ibu sendiri. Aneh juga sih, walau kita bicara pake bahasa Indonesia setiap hari, tapi ketika harus bikin lirik mendadak jadi pusing. Haha. Mungkin karena suku kata kata-kata bahasa Indonesia itu jumlahnya banyak alhasil susah pas mau dimasukkin dalam bait-bait lagu.

Tapi bagi saya justru di situ serunya. Mau ga mau kita jadi menjelajah dunia bahasa Indonesia yang ternyata sangatlah seru. Dalam penjelajahan itu kita ketemu dengan banyak puisi-puisi bagus, ketemu karya-karya sastra keren, padanan kata yang sebelumnya ga pernah tau, dll. Yak kepanjangan, tapi kurang lebih begitulah ceritanya.

T: Apa suatu hari kita akan mendengar Banda Neira menyanyi dalam bahasa lain?

A: Udah ada kok, biasanya kita suka cover lagu bahasa Inggris. Tapi kalau untuk lagu sendiri sepertinya sekarang-sekarang ini ga akan. Tapi siapa tahu besok-besok berubah pikiran.

R: Bener kata Nanda, kalau ngecover sih kita suka pake lagu bahasa Inggris. Tapi kalau ke depannya, belum ada rencana bikin pakai bahasa lain sih. Walau lagu “Ke Entah Berantah” hampir aja jadi lagu dua bahasa, kaya lagu-lagu Korea hahaha. Untungnya direvisi segera.

T: Menarik untuk mengenal Banda Neira lebih lanjut, dari penjelajahan Bahasa Indonesia yg dilakukan, kenapa memilih puisi Subagio Sastrowardoyo?

A: Saya mulai kenal puisi-puisi Subagio itu dari teman kosan saya, Bramantya Basuki. Koleksi buku puisi dia lumayan banyak, dan saya ikut bacain. Entah kenapa saya suka puisi-puisi yang  bertema kesepian. Haha. Itu ga bisa dijelasin sepertinya. Hahah. Dan Puisi Subagio itu sepi bener-bener sepi menyayat seperti belati banget lah pokoknya.

Puisi Subagio yang paling saya suka ada tiga: ‘Salam Kepada Heidegger’, ‘Manusia Pertama di Angkasa Luar’, dan ‘Rindu’. Semuanya bertema sepi.

Di puisi ‘Salam Kepada Heidegger’ ada kata-kata yang saya suka dan terus nempel:

“… Sajak sempurna sebaiknya bisu
Seperti pohon, mega dan gunung
Yang hadir utuh tanpa bicara”

Di puisi ‘Manusia Pertama di Angkasa Luar’ saya suka bagian pembukanya:

“Beritakan kepada dunia
Bahwa aku telah sampai pada tepi
Darimana aku tak mungkin lagi kembali…”

Dan terakhir puisi ‘Rindu’, apalagi kalau bukan bagian:

“…adalah teman bicara, siapa saja
atau apa: jendela, kursi
atau bunga di meja…”

Musikalisasi puisi “Rindu” muncul tak disengaja. Kebetulan saya lagi baca-baca buku kumpulan puisi Subagio yang judulnya ‘Dan Kematian Makin Akrab’ sambil pegang gitar. Terus tiba-tiba muncul nada bagian jendela, kursi, atau bunga di meja. Nada-nada sisanya menyusul. Lalu saya rekam dan lapor ke Rara. Saya minta dia yang nyanyiin.  Berharap musikalisasi yang super freak itu tertutup keunyuannya Rara. Lagunya freak banget sebenarnya, tapi mayan juga ternyata ada aja yang suka.

R: Wah kalau kenapa Subagio Sastrowardoyo, itu tentunya karena Nanda, berhubung dia sepertinya penggemar garis keras Subagio. Haha, aku justru tau dan baca puisi-puisinya dapet dari Nanda. Hm, kita ga pernah ngobrolin tentang Subagio juga sih, kayanya bacanya juga masing-masing haha. Tapi ternyata pas liat jawaban Nanda, ternyata ada kata-kata dari puisi Subagio yang kita berdua suka, yang ini:

“Saja sempurna sebaiknya bisu
Seperti pohon, mega dan gunung
Yang hadir utuh tanpa bicara.”

Nah kalau tentang tema puisi, aku agak berbeda sih dengan Nanda. Aku lebih suka puisi-puisi yang temanya tentang kesedihan, kegamangan atau yang bertema spiritualitas (?) hahaha. Gatau sih ini puisi dengan tema yang mana dari ketiga tema tadi, yang jelas puisi Subagio yang berjudul ‘Kata’, aku suka sekali:

“Asal mula adalah kata
Jagat tersusun dari kata
Di balik itu hanya
ruang kosong dan angin pagi

Kita takut kepada momok karena kata
Kita cinta kepada bumi karena kata
Kita percaya kepada Tuhan karena kata
Nasib terperangkap dalam kata

Karena itu aku
bersembunyi di belakang kata
Dan menenggelamkan
diri tanpa sisa”

Kata – Subagio Sastrowardoyo

T: Bisa cerita ga seberapa besar pengaruh karya sastra, terutama puisi dalam proses berkarya Banda Neira?

A: Mayan besar sih. Jadi begini, saya kalau ngetik tulisan atau nulis apapun itu gayanya harus “bengong” dulu. Saya bisa diam agak lama di depan laptop sebelum menulis sesuatu. Orang ngira saya lagi bengong, padahal bukan. Saya lagi merangkai paragraf di kepala.

Nah ketika pikiran lagi mengawang-ngawang itu semua hal yang pernah saya baca bercampur dengan apa yang mau saya tulis. Menulis lirik juga sama. Mungkin itu juga kali yang dirasain Rara ketika dia tutup mata. Tapi ga tau juga sih apa yang ada di kepala Rara pas dia lagi tutup mata cari inspirasi. Haha.

Balik ke pertanyaan, saya sebenarnya ga tau dan ga bisa jelasin gimana karya sastra mempengaruhi proses berkarya Banda Neira, tapi pasti sih ada korelasinya.

R: Menurutku karya-karya sastra berpengaruh kepada kehidupan seseorang secara keseluruhan, ga cuma dalam bermusik aja. Setiap karya dapat menginspirasi kehidupan seseorang dengan caranya masing-masing. Kalau buatku paling berkesan dari karya-karya sastra itu pengalaman rasa yang ia tinggalkan pada saat dan setelah kita baca karya tersebut. Perasaan-perasaan seperti itu ga bisa ditarik kembali, dan seringkali telah mengubah satu bagian dalam diri kita hanya melalui rangkaian kata dan kalimat. Hehe..

Emang dari kecil aku kebetulan suka sastra, sejak pertama kali liat surat-surat dan diary bapakku pas masih muda sih sebenernya haha. Kebetulan bapakku ahli kaligrafi dan waktu kecil aku belajar kaligrafi sambil liat puisi-puisi bapaku yang ditulis dalam kaligrafi.

Waktu SD aku inget tuh aku sok-sok baca Chairil Anwar, tau deh ngerti atau ga hahaha. Tentunya ini efek AADC, tapi ga nyangka juga berlanjut terus. Masih inget juga waktu SMP aku gandrung Sapardi, dan pas SMA aku khatam semua buku-buku Djenar Maesa Ayu, Dewi Lestari, dan pernah dalam setahun tamatin lebih dari 10 buku Shakespeare. Mabok style haha. Lalu pas kuliah, kayanya karena mulai masuk ke masa-masa sering galau, langsung mendadak jadi penggila Pablo Neruda – sampai sekarang.

Yak intinya, semua yang pernah kubaca turut membentuk aku hari ini.

T: Ada target target yang pengen dipenuhi?

R: Target paling deket, rekaman full-album iseng kita bulan Desember nanti, semoga boleh cuti. Amin. Haha. Kalau ke depannya, ga ada sih, selain terus berkarya dan bekerja dengan baik. Berhubung kita berdua memang punya cita-cita yang sudah dipatok dengan hati yang teguh, Nanda jadi wartawan, aku jadi pegiat sosial yang suatu hari akan punya sekolah sendiri.. Hehe. Tapi berbagi dan berkarya seharusnya tak kenal profesi, jadi tentunya Banda Neira walau tidak bertarget yang ambisius, akan terus ada. Semoga 

J: Desember mau rekaman, studio udah dipesan. Moga-moga gada yang tiba-tiba tifus karena kebanyakan kerja. Haha. Udah itu aja targetnya.

Contact:
@dibandaneira

==================================================================================

Banda Neira adalah adalah salah satu pulau di Kepulauan Banda, Kecamatan Banda, Kabupaten Maluku Tengah, Maluku, Indonesia, sebelum akhirnya dipakai sebagai nama dari duo acoustic boy-girl duo asal Jakarta – Ubud, Bali ini.

* wawancara oleh Ivan Makshara

~ by wastedrockers on 14/11/2012.

One Response to “Wawancara di Paruh Waktu dengan BANDA NEIRA”

  1. musik hasil perpaduan nada dan sastra kualitas tinggi… kerennn

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

 
%d bloggers like this: