Philips Fidelio S2 dari Sudut Pandang Si Awam Audio

Disclaimer: Sejujurnya, saya bukan seorang audiophile yang sangat detail mengulik sound. Bukan pula orang yang mengerti teknis mixing dan mastering musik dengan baik. Namun pengalaman memakai perangkat ini buat saya nggak tahan untuk membagi ulasannya kepada kalian semua.

Selama ini saya percaya bahwa kekayaan mixing dan mastering musik hadir sendiri di dalam lagunya. Dengan senjata earphones seratus ribu rupiahan yang selama ini jadi andalan, mendengarkan musik terasa cukup memuaskan demi menguak kekayaan tersebut. Sejauh ini, saya survived.

Di iPod touch 2G saya, mungkin setiap seminggu sekali mesti ada track-track musik elektronik, dari berbagai genre; house, techno, garage, disco. Kebanyakan yang cenderung ke style UK dance music masa kini, musik bass dengan karakter, well, mengekspos sub bass yang tipis dan berfrekuensi rendah. Saat commuting di belantara Jakarta yang riuh ini, mendengarkan musik tersebut seperti masuk ke ruang sejuk yang mempengaruhi mood saya lebih positif.

Philips Fidelio 2. (Foto: Philips)

Philips Fidelio 2. (Foto: Philips)

Terakhir, saya mendengarkan In Session (seri mix mingguannya Mixmag), episode Kahn & Neek. Di mix tersebut, duo asal Bristol ini banyak memasukkan track-track grime, dubstep, sampai jungle. Biasanya jarang rasanya saya dengar satu DJ mix lebih dari satu kali. Sampai saya menerima Philips Fidelio S2 di tangan saya. Saya dengar mix ini sekali lagi dengan perangkat baru ini.

Di titik ini, pandangan saya soal mixing dan mastering di atas berubah. Pada track-track dubstep dan jungle dengan sub-bass mengiringi di setiap beat, saya menemukan bagian-bagian bass yang sebelumnya tak terdengar. Temuan itu diekspos apik lewat Fidelio tanpa berujung desis atau getaran yang berlebihan. Bassline di track-track jungle malah jauh lebih bulat dibanding sebelumnya. Konon penangkapan frekuensi bass yang tepat ini terjadi berkat housing terbuat dari metal tempat eartips bertumpu, demi mengurangi resonansi dan getaran. Jadi bass terdengar pulen tanpa ‘menyakiti’ gendang telinga.

Sebagai catatan, mix ini diunggah dalam resolusi 256 VBR berformat m4a yang—menurut para ‘suhu’ di forum-forum audio—lebih tinggi kualitasnya ketimbang format mp3 beresolusi 320 kbps. Kalau sound di mix ini memang dikompres beresolusi tinggi, saya juga mencobanya untuk mendengarkan album Jailo & Kappa Kavi (duo? Entah, mereka/dia berasal dari Hamburg), yang dikompres jadi 320 kbps format mp3.

Album “Asteroid” (Saturate Records, 2014) seperti library bagi kamu yang suka musik elektronik underground masa kini; di dalamnya ada, sebut saja, sound wonky, Purple sound, beats, sampai Jersey club. Di sini, saya ingin buktikan kalau Fidelio juga peka di track yang penuh sound synths dan melodi.

Track “Three AM” jadi ‘penuh’ didengar. Apalagi pada part sound 8-bit. Nada-nada hasil generate arpeggiator yang tinggi tidak ‘kelepasan’ jadi desis atau maksimal memekakkan telinga. Soal bermain di frekuensi ini, Fidelio kasih feature diafragma polimer yang berlapis-lapis pada driver-nya (konon ini yang jadi signature Fidelio), jadinya nada-nada tinggi dan tengah bisa lebih smooth dan solid. Sementara, kembali lagi ke keindahan bass-nya, track “Perfectly Timed Traffic Light (Subp Yao Remix)” yang meletakkan sub bass di tiap kick buat saya makin malas melepaskan earphones ini.

Mungkin ini perkara iPod-nya? Saya mencoba platform lain, langsung di laptop. Buka Spotify (saya enggak langganan, berarti resolusi yang diberikan sekitar 256 kbps, mp3), dengan on-board audio, saya mulai buka track favorit; “In Love”-nya Fear of Pop.

Keputusan yang ‘salah’ untuk membuka track favorit itu dengan Fidelio di telinga. Saya seperti menemukan harta karun mixing dan mastering yang kuat di lagu proyekan Ben Folds dan William Shatner ini. Track progressive pop dengan beat middle dan instrumen yang seakan minimalis, di telinga saya kini jauh lebih kaya (padahal beat-nya sebelum chorus terbilang ‘sepi’/spacey antarketukan). ‘Salah’ karena saya mesti menyalahkan earphones lama saya, mengapa tidak bisa melakukan hal yang sama.

Ternyata banyak detail yang selama ini terlewat. Misalnya suara hi-hat dan rimshot dengan panning dan penyusunan yang berlapis-lapis. Treble di Fidelio jadi andalan juga, suara gitar yang annoying di bagian intro malah berhasil ‘diredam’ tanpa mengurangi kualitas sound dan mengubah karakternya. Pizz biola yang gurih. Suara bass di awal beat setiap ketukan malah berefek dramatis. Seharusnya saya, yang ngakunya kenal banget dengan lagu itu, mesti menemukan harta karun sound tersebut sejak awal mendengarkannya.

Menariknya, Fidelio kasih beberapa pilihan eartips yang menjamin kenyamanan di lubang telinga. Saya pilih eartips Comply Active S. Demi meminimalisasi suara yang terdengar di luar earphones, eartips ini berfungsi seakan jadi ear plugs yang akhirnya buat saya fokus dengar musik tanpa terganggu noise dari luar. Karena bahannya busa premium dan desain eartips (plus desain earphones-nya sendiri) yang ergonomis, Fidelio enggak buat telinga pegal.

P.S. besok-besok saya belum tentu betah mendengarkan music dengan earphones lama saya.

About these ads

~ by Gembira Putra Agam on 20/06/2014.

One Response to “Philips Fidelio S2 dari Sudut Pandang Si Awam Audio”

  1. i’m kinda jealous. is it really THAT good? gosh….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 130 other followers

%d bloggers like this: