Memandang Langit Tengah Malam Bersama @ijalpostrock

Jarak kota Jakarta-Karawang seakan terasa dekat ketika Wasted Rockers (WR) berencana mengunjungi seorang musisi sekaligus frontman band Heima, Syahrizal atau kerap disapa Ijal. “Trun d Klari, bang, s Unggul ma Agus kga bisa ikut. Jdi nungkrong ma ge aja,” tulis Ijal melalui SMS yang dikirimkannya ke nomor WR.

Heima: (Kiri atas-bawah) Unggul, Ijal, Agus.

Selepas jarak 70 Km dari Terminal Pulo Gadung sambil ditemani track-track musik post rock esensial sepanjang perjalanan, akhirnya WR sampai di Klari, nama terminal Antarkota-Antarprovinsi Karawang, Minggu (14/4) lalu. Ijal menyambut WR dengan kaos bertuliskan “I Love Icelan” yang sepertinya dicetaknya sendiri. Udara lembap dan suhu yang panas siang itu membuat wajah Ijal nampak berkeringat, tapi senyuman kharismatiknya sungguh menghibur WR. “Sampai juga, Bang. Yuk, ke Yusuf aja,” sapanya.

Dengan motor Astrea Grand yang dicat berwarna hijau metalik miliknya, Ijal mengajak WR ke YusufSound Studio Band, tempat single fenomenal “Hope in Icelan” direkam, yang berlokasi di sekitar Alun-alun dan Masjid Agung Karawang. Sebatang Gudang Garam Filter di antara jari Ijal serta kopi di hadapan sepertinya membuat Ijal rileks setelah sebelumnya dia nampak gugup ketika WR ingin mewawancaranya mengenai single “Hope…”, proses rekaman, dan scene musik di Karawang.

“Delay dan reverb baru di telinga mereka”
Sebagai seorang pelopor, banyak hambatan yang dihadapi Ijal saat merekam “Hope…” Proses rekaman lagu yang sontak menjadi viral di media sosial tersebut membutuhkan proses yang tak instan serta effort yang lebih. Bersama kedua sahabatnya, Unggul yang dahulunya bermain di sebuah band bergenre “Dead Metal” (begitu tulisnya di akun Twitter-nya) dan Agus yang biasa membawakan musik punk rock, Ijal mengaku susah beradaptasi dengan tempo genre post rock yang cenderung lambat, “Tapi Alhamdulillah, mereka pun terbiasa.”

Urusan sound juga menjadi perhatian Ijal ketika rekaman. Salah satu hal yang menyebalkan baginya adalah ketika mengetahui bahwa Unggul dan Agus baru mendengar efek-efek gitar khas musik post rock, delay dan reverb. “Itu baru di telinga mereka, karena mereka ‘kan anak dead metal dan punk rock yang terbiasa mendengar efek [gitar] distortion,” ujarnya sambil menghisap Garpit di tangannya.

Band lama Ijal di masa SMA.

Lalu mengapa memilih YusufSound Studio Band sebagai tempat rekaman? “Secara pribadi gua sudah mengenal Bang Yusuf sejak masa SMA. Waktu itu gua masih bersama band lama gua yang beraliran ‘pop eksperimental’. Harga rekaman di studio YusufSound sendiri untuk kawasan Karawang cukup terjangkau dengan kantong kita yang anak-anak kuliahan.” Yusuf, sang pemilik studio, yang turut mengikuti wawancara WR dengan Ijal tersenyum simpul saat Ijal memujinya, “untuk urusan editing dan penggunaan software, Bang Yusuf sudah tidak diragukan lagi.”

Menikmati hujan di keremangan kamar
Kontemplasi ternyata merupakan sesuatu yang wajib dilakukan Ijal ketika ingin berkarya. Berpengalaman mendengarkan musik Sigur Ros sampai membuat lagu yang dipersembahkan untuk negeri Jonsi dkk berasal, Ijal mengaku memiliki cara-cara khusus demi mendapatkan inspirasi. “Yang jelas sih yang biasa masyarakat post rock lakukan,” di titik ini Ijal berhenti meneruskan pembicaraan. Wajahnya nampak nanar, dia tertunduk bagai menunjukkan ekspresi perenungan yang dalam. Kemudian terdengar helaan napas yang melegakan perasaan, “gua sering memandang langit di tengah malam, menikmati hujan di keremangan kamar, lalu menonton film ‘Heima’.” Ijal kembali tertunduk.

Heima” adalah film dokumenter tur Sigur Ros arahan Dean DeBlois yang mengubah hidup Ijal. Film dengan durasi 90 menit ini ‘mengajarkannya’ bagaimana menjadi musisi post rock sejati; bernyanyi dengan lirik Hopelandic dan menikmati keindahan Islandia (yang ditulisnya menjadi “Icelan”).

Uniknya, Ijal menganggap Sigur Ros sebagai pelopor musik post rock, diartikannya juga bahwa Islandia menjadi negara pertama yang menciptakannya. WR mencoba memancing sejauh mana pengetahuan musik post rock Ijal, “Tahu tidak kalau ternyata musik post rock bukan dari Iceland?”–Ijal tiba-tiba menunjukkan ekspresi kaget yang sulit dideskripsikan. Rokok Garpit di jarinya terjatuh. Mulutnya ternganga. Lalu dia malah balik bertanya, “Wah?! Dari mana dong?!”

Band-band Karawang rekomendasi Ijal
Sebelum mengakhiri sore di Karawang, Ijal sempat merekomendasikan lima band kotanya yang dia banggakan.

D’sads. “Mungkin mereka lebih ke indie pop ya. Tapi nama band-nya galaw banget.”

Apparel

“Terus ada lagi Awan Band dan Senopathi dengan single-nya yang berjudul ‘Wujudkan Mimpi’.”

Simak juga lagu “Hope in Icelan” dari band Ijal, Heima, di bawah ini.

About these ads

~ by Gembira Putra Agam on 16/04/2013.

3 Responses to “Memandang Langit Tengah Malam Bersama @ijalpostrock”

  1. aduhh gusti :D

  2. Semoga Ijal dapat terus berkontribusi bagi perkembangan musik post rock di Karawang… Hyuuuuuuu

  3. gembi ngehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 129 other followers

%d bloggers like this: