Wawancara Dengan THE TOASTERS

This slideshow requires JavaScript.

Berikut adalah wawancara kami dengan frontman (vokalis & gitaris) The Toasters, Robert Hingley a.k.a “Bucket” 45 menit sebelum konser mereka di Jakarta (27/9) dimulai. Di sini kami ngobrol banyak mengenai: Ska di NYC era 80s, C.B.G.B, tren musik Ska, filesharing, vinyl, Ska-punk dan tentunya band-band Ska di Indonesia.

Pertanyaan-pertanyaan dijawab dengan keramahan dan elegannya aksen British dari Bucket (beliau lahir dan besar di UK, sebelum akhirnya pindah ke New York, USA – red).

 

1. Kalian sudah eksis sejak awal tahun 80-an, apa yang membuat kalian bisa terus berkarya hingga hari ini?

Kami suka sekali manggung di banyak show, dan saya pribadi tidak terlalu suka tinggal di satu tempat yang sama dalam waktu lama, jadi selalu di jalan dan tur, seperti di Indonesia pekan ini, adalah sangat menyenangkan.

Kami sangat senang tur di Indonesia, hanya tidak untuk para polisi di Surabaya (The Toasters tidak jadi manggung di Surabaya karena urusan perijinan panitia lokal dipersulit oleh pihak kepolisian setempat – red). Kalau bisa saya ingin memberikan four thumbs down buat mereka (para polisi – red).

2. Apa pendapat kamu mengenai penikmat musik Ska di Indonesia?

Cukup mengagetkan ketika tahu bahwa banyak anak muda di sini yang menyukai Ska dengan gaya lebih otentik / tradisional seperti London Ska. Saya juga senang tidak mendengar lagu-lagu dari Reel Big Fish di beberapa gig di sini. Lalu saya senang dengan dukungan anak-anak di sini untuk musik Ska. Matur suwun (he really said that :P – red).

3.Di pertengahan 90-an musik Ska sangat populer di seluruh dunia, kini semakin memudar dan kembali ke underground. Apa pendapat anda mengenai tren tersebut?

Ya, musik Ska memang populer di pertengahan 90-an, terutama di AS. Sebenarnya beberapa band yang muncul ke permukaan bukan Ska sama sekali, seperti Smash Mouth atau Save Ferries, mereka bukan band Ska yang sebenarnya. Meski band mereka memiliki horn-section, namun mereka sebenarnya bukan band Ska murni.

Band-band Ska murni saat ini banyak yang tetap eksis, dan Ska pun kembali ke roots-nya di era 50-an, tidak seperti fenomena Ska-punk yang banyak membutakan masyarakat di era 90-an.

Tapi saya juga tidak bilang bahwa mereka (band-band Ska era 90s – red) buruk sama sekali, band-band seperti Mighty-Mighty Bosstones dan No Doubt memang layak mendapat ekspos yang besar. Namun di era “90s Ska booming” seharusnya musisi Ska senior seperti Lauren Aitken mendapat ekspos besar, yang sayangnya saat itu tidak terjadi.

4. New York terkenal akan venue C.B.G.B untuk scene underground, apakah ada venue khusus di NYC untuk band-band Ska di era 80-an awal?

Di era 80-an ya, C.B.G.B merupakan venue yang ramai akan band Ska, kami juga banyak melakukan gig di sana. Tapi juga ada venue-venue lainnya untuk scene Ska seperti Pyramid Club, The Ritz, dan lain-lain. Namun saat ini scene indie di NYC cukup menyedihkan, karena banyak club yang tutup. Saya tidak senang akan hal itu.

5. Apakah ada rencana dari The Toasters untuk merilis box-set?

Ya, ada beberapa pihak yang ingin merealisasikan ide tersebut. Kompilasi The Best kami akan dirilis dalam format CD di Inggris, proyek box-set memang cukup menarik, namun itu merupakan proyek yang mahal. Tapi sudah ada record-label di LA yang merilis box-set untuk band Ska seperti The English Beat. Tapi tidak tahu juga, mungkin kalian di Indonesia ingin merilisnya untuk kami? Seperti orang-orang yang membuatkan kaos tur kami di sini. Jadinya seperti bootleg box-set versi Indonesia. Hahaha…

6. Sehabis Jakarta, ingin ke mana lagi kalian?

Besok pagi (28/9) kami akan terbang untuk manggung di Beijing, China. Setelah itu kami akan kembali ke AS untuk kembali tur selama satu bulan, dan kembali pulang ke Eropa untuk saya, dan AS untuk anggota band lainnya.

7.Apakah ada rencana untuk album studio terbaru?

Album baru bakal rilis apabila sudah siap. Kami sudah ada dua lagu yang disiapkan sebagai vinyl single, yang akan dirilis bulan November nanti, setelah tur ini selesai. Album baru kami nanti juga bakal dipecah menjadi beberapa single vinyl, seperti yang dilakukan oleh band-band di era 50-an.

8. Apa pendapat kamu mengenai “filesharing”? Mengingat saat ini lebih banyak orang yang mengunduh secara ilegal ketimbang membeli rilisan fisik…

Bagus untuk masyarakat, karena mereka mendapatkan perpustakaan musik gratis yang masif, tapi buruk bagi artis, karena mereka tidak mendapat royalti dan tidak bisa hidup darinya. Selain itu efeknya juga parah bagi label-label rekaman indie, karena sudah menghancurkan sektor industri tersebut, seperti yang kita lihat saat ini. Sekali lagi, efek filesharing bagus untuk publik, namun buruk, buruk untuk sang artis.

9. Namun pemberitaan di beberapa media menyebutkan bahwa sejak tahun 2007 penjualan vinyl terus meningkat… Apa pendapat kamu mengenai hal ini?

Ya, tapi penjualannya menurut saya juga naiknya tidak terlalu signifikan, seperti label-label yang merilis vinyl untuk band-band Ska biasanya jumlahnya terbatas, seperti hanya 250 copy saja.

Untuk vinyl album-album kami saja saat ini rata-rata dirilis hanya 1000-2000 copy saja. Jadi menurut kami sih tidak terlalu signifikan kenaikannya. Penjualan album kami saat ini pun belum bisa menyamai penjualan CD The Toasters seperti 15-20 tahun yang lalu. Jadi penjualan rilisan fisik saat ini memang masih rendah, dan hal itulah yang berdampak pada label-label rekaman. Jika label rekaman independen terkena dampaknya, maka musisi independen juga terkena dampaknya.

10. Apakah ada band-band Ska Indonesia yang kamu sukai dan ingin melihat penampilannya?

Saya ingin melihat penampilan live dari Sentimental Moods malam ini. Heavy Monster kemarin di Surabaya juga bagus. Band-band Ska di Malang juga cukup bagus. Keseluruhan, sangat menyenangkan melihat band-band di sini serta dukungan mereka untuk musik Ska tradisional.

12. Apa pendapat anda mengenai pergerakan Ska-punk?

I’m not a big fan. Meski mereka yang mempopulerkan kembali musik Ska di era 90-an dan sukses, namun ada sisi buruknya juga, karena anak-anak muda yang mendengarkan Ska-punk tidak tahu akan Two-Tone / Traditional Ska. Sangat menyenangkan jika orang membicarakan ragam dari musik Ska, namun saya ingin agar orang-orang lebih memberikan atensi akan band-band yang memainkan Ska tradisional.

Terima kasih. (he also said that :P – red).

* Interview oleh: Dede

 

About these ads

~ by wastedrockers on 29/09/2012.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 75 other followers

%d bloggers like this: