Rizal Abdulhadi – The Indonesian Troubadour Tour – South-East Asia # 1

The Indonesian Troubadour Tour – South-East Asia # 1 adalah tema besar yang diambil oleh Rizal Abdulhadi untuk perjalanan musiknya berkeliling Asia Tenggara pada bulan Mei sampai Juli tahun ini.

Setelah melakukan perjalanan tour di beberapa pulau di Indonesia sejak tahun 2008 hingga sekarang, Rizal memutuskan untuk merambah lebih besar jarak dan perputaran tour-nya yaitu menyebrang ke negara-negara tetangga seperti: Malaysia, Singapura, Thailand, dan lainnya.

Karena rasa yang selalu haus akan sebuah ilmu-lah yang mendorong semangat Rizal untuk terus berproses belajar dan berkarya dengan banyak orang dengan beragam budaya dan pola pikir tentunya, dan Rizal meyakini bahwa Silaturahmi dan menumpuk kawan sebanyak banyaknya adalah kekayaan lahir maupun batin baik bagi dirinya juga berharap bisa bermanfat bagi sesama karna ada proses saling berbagi ilmu pengetahuan dan kasih sayang sesama umat manusia.

Rizal punya pendapat lain terhadap proses pengkaryaan yaitu bagaimana sebisanya sebuah karya yang lahir itu bisa bermanfaat bagi sekitarnya dan kehidupan dimasa yang akan datang bukan hanya sekedar musik atau seni itu adalah entertain atau hiburan semata tapi dia memandang lebih dari sekedar itu. Maka setiap kali Rizal singgah disuatu tempat dan menggelar konser sederhananya selalu di iringi oleh gelar diskusi dan workshop bersama untuk saling berbagi pengetahuan dan wawasan setelah pertunjukannya atau tak jarang juga sebelum konser di mulai Rizal kerap sekali mengajak disekitarnya untuk berkolaborasi bersama dan berkarya untuk dipentaskan bersama.

Tentang Tema

‘The Indonesian Troubadour Tour’

Troubadour adalah sebutan untuk seorang musisi petualang atau penyanyi dari puisi puisi lirih, kata troubadour berawal pada abad ke-11 di Occitania, tetapi kemudian menyebar ke Italia, Spanyol, dan bahkan Yunani. Di bawah pengaruh kaum trobador, gerakan merambah luas terlihat dari mulai bermunculan di seluruh Eropa: Minnesang di Jerman, trovadorismo di Galicia dan Portugal, dan trouvères di utara Perancis. Setelah periode “klasik” sekitar pergantian abad ke-13 dan kebangkitan pertengahan abad, seni dari trobador menurun pada abad ke-14 dan akhirnya menghilang sekitar tahun 1348. Kata “Troubadour” secara etimologis adalah maskulin sedangkan sebutan untuk seorang Troubadour perempuan biasanya disebut Trobairitz.

Teks-teks lagu-lagu seorang Troubadour ini biasanya membahas tema-tema semangat, kepahlawanan, sopan santun, sosial politik yang satir lucu atau bahkan terkadang vulgar. Dan Rizal Abdulhadi adalah seorang Troubadour dari Indonesia maka diambillah kata ‘The Indonesian Troubadour Tour’ untuk tema konser perjalanannya di tahun ini setelah akhir tahun lalu Rizal Abdulhadi di ajak membuat album kompilasi oleh Musisi Gerilya yang sudah lama berkiprah di dunia Troubadour yaitu Ary Juliyant dari Lombok dengan album berjudul ‘The Troubadour Trail’.

Sekilas tentang Rizal Abdulhadi

Rizal Abdulhadi adalah seorang musisi muda multiinstrumen yang mendedikasikan karya karyanya untuk sebuah perubahan sosial menuju kehidupan yang lebih baik.

 

Musisi kelahiran 30 Agustus tahun 1988 disebuah perkampungan bernama Majalengka ini mefokuskan musiknya berjenis balada / folk dengan hanya menggunakan gitar akustik, harmonica dan vocal khasnya. Dengan lirik yang kuat dan sarat akan makna dibalut lembut oleh sastra berupa puisi, tidak jarang juga puisi puisi dari para penyair Indonesia dikemasnya menjadi lagu.

Karya karya yang telah lahir dari buah tangannya sudah melebihi dua kali lipat jumlah umur Rizal saat ini, dari tahun 2007 hingga sekarang sekitar 60 lagu sudah tercipta, sebagian telah di albumkan baik album solo juga album kompilasi bahkan tak jarang juga banyak lagu yang dicipta khusus dipersembahkan kepada masyarat dimana dia berada saat itu seperti membuat beberapa lagu untuk masyarakat kep. Mentawai, juga lagu lagu yang dia ciptakan untuk menjadi catatan pribadinya.

Karir soloisnya dimulai pada tahun 2007 setelah tahun tahun sebelumnya seorang Rizal kerap sekali gontaganti genre musik dengan membuat grup band bergenre: pop, alternative, punk, hardcore, metal, hiphop, dan lainnya. Tapi hingga saat ini pun Rizal Abdulhadi karna menguasai banyak instrumen tidak melulu solois, dia masih aktif dengan beberapa grup musik terlebih karna kecintaannya terhadap budaya tradisi maka untuk ikut melestarikan seni tradisi Rizal sering memainkan musik etnik walaupun kontemporer bersama Konser Kampung sebuah grup musik yang berdiri tahun 1986 hingga saat ini sebagai generasi penerus..

Karna Rizal Abdulhadi tidak hanya seorang musisi tapi juga seorang aktivis sosial dia gemar sekali membuat pertunjukan musik, workshop, diskusi, performance art dengan berpetualang ke pelosok desa desa, pulau pulau di Indonesia dengan berkeyakinan bahwa berkesenian hendaklah tidak terlepas dari persoalan kehidupan dimasyarakat, dimulai pada tahun 2008 hingga sekarang. membuat pertunjukan musik dengan stage random dimana saja, mulai dari stage besar, mini stage, bahkan public space seperti pasar tradisional, terminal, stasiun kereta, gedung gedung, pabrik pabrik, pinggiran jalan, warung warung, juga pesawahan bahkan pernah membuat konser di depan gedung KPK dan di dalam gedung paripurna MPR DPR RI untuk menyuarakan suara rakyat dan tentunya kerap sekali bernyanyi di tengah tengah demonstrasi aksi massa untuk menyemangati.

Selain konser konser gerilyanya di kota kota, kampung kampung, pelosok desa bahkan pulau pulau kecil di Indonesia Rizal pun membuat Konser rutinan tiap tahun di tempat kelahirannya Majalengka dari tahun 2009 hingga sekarang sebagai persembahan atas tanah kelahirannya.

Setelah ikut serta dalam grup musik Kontemporer bernama The Mystical Earth pada tahun 2007-09 di bawah bendera Jatiwangi Art Factory Musisi muda ini sering kali menjadi pengajar sekaligus komponis untuk beberapa grup Perkusi (percussion) dan di tahun 2011 Rizal Abdulhadi mulai membuat musik project lainnya bernama Rasendriya sebuah grup folk mini orkestra bersama pemain cello dan biola. Dan membuat grup musik dengan personil berbeda negara bernama The Long Lost Brother bersama Nick Wallaki (Aussie) dan Patricio Zuniga (Chile). Juga grup Ethnic Chill Out dengan personil dari mancanegara dengan instrument tradisi dari masing masing negaranya yang terbentuk di Bali. Dan grup terakhir duo bersama Ellie Hannon dari Australia dengan kelompok bernama Ellie & Rizal.

Karirnya mencuat ketika mulai hijrah ke Jakarta pada akhir tahun 2009 setelah di peretengahan tahun 2010 melauchingkan album EP-nya yang cukup menggebrak musik di Ibukota karena menyuguhkan musik yang berbeda. Kemudian banyak EO besar yang menawarkan pentas, puluhan atau mungkin ratusan event pernah diikutinya dari mulai event besar seperti Bambu Nusantara World Music Festival, Braga Festival sampai event event komunitas pun dijajalinya dan Rizal pun pernah berkolaborasi dengan musisi besar sepeti Franky Sahilatua (alm), Trie Utami, Edo Kondologit, Ras Muhamad, Glen Fredly, Letto, dan banyak lagi, bahkan di bulan November 2011 konser akbar bersama musisi legendaris Iwan Fals di Mentawai.

About these ads

~ by wastedrockers on 07/05/2012.

One Response to “Rizal Abdulhadi – The Indonesian Troubadour Tour – South-East Asia # 1”

  1. [...] WastedRockers [...]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 75 other followers

%d bloggers like this: